Harga Emas Rontok usai Cetak Rekor

Rolia Pakpahan
Rolia Pakpahan
Diperbarui 3 Februari 2026 9 jam yang lalu
Harga Emas Dunia Melemah (Foto: Ist)
Harga Emas Dunia Melemah (Foto: Ist)

Jakarta, MI - Harga emas dan perak dunia bergejolak sepanjang pekan lalu. Setelah sempat mencetak rekor tertinggi, kedua logam mulia itu justru berbalik arah dan terjun cukup dalam akibat perubahan sentimen pasar keuangan global.

Emas sempat melesat hingga menembus rekor di atas 5.580 dolar AS per ons pada Kamis lalu. Lonjakan ini membuat pasar ramai, namun sehari berselang, harga emas langsung ambruk sekitar 9 persen—penurunan harian terdalam dalam beberapa tahun terakhir.

Tekanan jual belum mereda di awal pekan. Pada Senin (2/2/2026), emas kembali turun 3,3 persen ke kisaran 4.545 dolar AS per ons sebelum mulai pulih.

Mengutip laporan DW, reli harga emas sebelumnya dipicu oleh meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah inflasi yang masih tinggi di sejumlah ekonomi utama serta meningkatnya ketegangan geopolitik global. Faktor tersebut mencakup hubungan dagang Amerika Serikat dan China, ambisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Greenland, perang Rusia di Ukraina, serta peran Iran dalam konflik kawasan.

Di sisi lain, pasar juga merespons ekspektasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat oleh Federal Reserve. Kebijakan ini umumnya melemahkan dolar AS dan mendorong kenaikan harga emas.

Kenaikan harga emas juga diperkuat oleh maraknya transaksi call option, yaitu kontrak yang memberi hak kepada investor untuk membeli emas pada harga tertentu di masa depan. Kondisi ini memaksa penjual opsi untuk membeli emas sebagai lindung nilai, sehingga menciptakan dorongan lanjutan terhadap kenaikan harga.

Sementara itu, harga perak juga bergerak ekstrem. Logam ini sempat menembus rekor 121,64 dolar AS per ons pada Kamis, sebelum berbalik anjlok hampir sepertiga. Hingga Senin, harga perak tercatat turun sekitar 41 persen ke kisaran 72 dolar AS per ons, sebelum mulai pulih.

Pembalikan harga yang tajam tersebut terutama dipicu oleh dua pengumuman penting yang mengubah sentimen pasar dan memicu aksi jual paksa. Pertama, Presiden Donald Trump pada Jumat menunjuk Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve berikutnya menggantikan Jerome Powell.

Warsh dipandang sebagai figur yang pragmatis dan independen, serta memiliki pengalaman menghadapi krisis ekonomi. Pasar menilai penunjukan ini sebagai sinyal bahwa kebijakan moneter ke depan tidak akan cenderung agresif memangkas suku bunga, berbeda dengan tekanan yang selama ini disuarakan Gedung Putih.

Penunjukan Warsh mendorong penguatan dolar AS, berlawanan dengan ekspektasi sebagian investor yang memperkirakan pemerintahan Trump akan mentoleransi pelemahan mata uang. Di antara kandidat Ketua Federal Reserve, Warsh dinilai paling ketat terhadap inflasi, sehingga meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan memberi tekanan pada harga emas yang diperdagangkan dalam dolar AS.

Selain itu, Bursa Chicago Mercantile Exchange (CME) pada akhir pekan lalu menaikkan persyaratan margin perdagangan emas dan perak berjangka melalui COMEX (Commodity Exchange, Inc.). Kebijakan ini bertujuan menekan pengambilan risiko berlebihan dan menjaga stabilitas pasar, serta mulai berlaku setelah penutupan perdagangan Senin.

Gejolak harga ini memunculkan perdebatan di kalangan pelaku pasar soal apakah lonjakan emas dan perak benar-benar sudah berakhir, atau sekadar mengalami koreksi sementara.

“Pertanyaan yang kini muncul adalah apa yang akan terjadi selanjutnya,” kata Michael Brown, analis riset senior di perusahaan pialang keuangan Australia, Pepperstone.

Ia menilai bahwa sebagaimana reli sebelumnya berlangsung terlalu cepat, koreksi harga kali ini juga berpotensi telah bergerak terlalu jauh dalam waktu singkat.

Seiring merosotnya harga emas global, harga emas Antam di pasar domestik ikut terkoreksi tajam. Berdasarkan pantauan di laman Logam Mulia pada Selasa (3/2/2026), harga emas Antam turun Rp183.000 menjadi Rp2.844.000 per gram dari sebelumnya Rp3.027.000.

Sementara itu, harga beli kembali (buyback) turun tipis Rp 9.000 menjadi Rp 2.624.000 dari sebelumnya Rp 2.633.000 per gram.

Dalam setiap transaksi penjualan emas batangan, berlaku ketentuan pajak sesuai PMK Nomor 34/PMK.10/2017 untuk semua jenis emas, mulai dari gramasi 1 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram.

Adapun penjualan kembali emas batangan ke PT Antam Tbk dengan nilai di atas Rp10 juta dikenakan PPh Pasal 22 sebesar 1,5 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan 3 persen untuk non-NPWP. PPh Pasal 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.

Berikut daftar harga emas batangan Antam berdasarkan pecahan yang tercatat di laman Logam Mulia pada Selasa (3/2/2026):

Harga emas 0,5 gram: Rp 1.472.000
Harga emas 1 gram: Rp 2.844.000
Harga emas 2 gram: Rp 5.628.000
Harga emas 3 gram: Rp 8.417.000
Harga emas 5 gram: Rp 13.995.000
Harga emas 10 gram: Rp 27.935.000
Harga emas 25 gram: Rp 69.712.000
Harga emas 50 gram: Rp 139.345.000
Harga emas 100 gram: Rp 278.612.000
Harga emas 250 gram: Rp 696.265.000
Harga emas 500 gram: Rp 1.392.320.000
Harga emas 1.000 gram: Rp 2.784.600.000.

Topik:

harga-emas-anjlok