Udara Jakarta Tak Sehat Pagi Ini, Masuk Enam Besar Kota dengan Polusi Terburuk di Dunia

Rolia Pakpahan
Rolia Pakpahan
Diperbarui 5 Januari 2026 07:44 WIB
Kualitas Udara Jakarta Terburuk ke Enam di Dunia (Foto: Ist)
Kualitas Udara Jakarta Terburuk ke Enam di Dunia (Foto: Ist)

Jakarta, MI - Pada Senin (5/1/2025) pagi, Jakarta tercatat berada di peringkat keenam sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia, dengan status tidak sehat.

Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.45 WIB, indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI) Jakarta berada di angka 174. Angka itu masuk kategori tidak sehat dengan polusi udara PM2.5 dan nilai konsentrasi 79,5 mikrogram per meter kubik.

Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak negatif, terutama bagi kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan. Paparan polusi udara pada level tersebut dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

Situs pemantau tersebut juga memberikan sejumlah imbauan terkait kondisi udara di Jakarta. Masyarakat disarankan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Apabila harus beraktivitas di luar, penggunaan masker dianjurkan, serta menutup jendela rumah untuk mencegah masuknya udara tercemar dari luar.

Sementara itu, kategori baik yakni tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.

Adapun kategori sedang menunjukkan kualitas udara yang masih aman bagi kesehatan manusia dan hewan, namun dapat berdampak pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 51-100.

Kategori sangat tidak sehat berada pada rentang PM2,5 sebesar 200-299 atau kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Terakhir, berbahaya (300-500) atau secara umum kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi.

Adapun kota dengan kualitas udara terburuk di dunia saat ini dipimpin oleh Karachi, Pakistan, dengan indeks 218. Posisi berikutnya ditempati Kolkata, India, dengan indeks 189, disusul Delhi, India, di angka 187, dan Kinshasa, Republik Demokratik Kongo (DR Kongo), dengan indeks 177.

Sementara itu, Jakarta tercatat sebagai kota dengan sistem pemantauan kualitas udara terintegrasi dan terluas di Indonesia, dengan 111 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang aktif di seluruh wilayah Ibu Kota.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengungkapkan bahwa sistem pemantauan kualitas udara terebut merupakan kombinasi antara stasiun referensi dan sensor berbiaya rendah (Low-Cost Sensor atau LCS) yang dipasang di berbagai titik strategis.

“Melalui sistem yang terintegrasi ini, kami dapat memantau kondisi udara secara 'real-time' dan melakukan langkah mitigasi lebih cepat untuk melindungi kesehatan warga,” tutur Asep di Jakarta, Jumat (17/10/2025).

Jaringan pemantauan kualitas udara ini merupakan hasil kolaborasi antara DLH DKI Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), organisasi masyarakat sipil, perguruan tinggi serta mitra dari sektor swasta.

Selain itu, Pemprov Jakarta juga tengah mempersiapkan Early Warning System (EWS) untuk polusi udara sebagai langkah antisipatif dan responsif terhadap potensi peningkatan pencemaran.

Topik:

kualitas-udara-jakarta