Telkom (TLKM) Catat Kinerja Kuartal III-2025 Positif, Yield Data jadi Penopang Utama

Adelio Pratama
Adelio Pratama
Diperbarui 8 November 2025 16:35 WIB
Gedung PT Telkom Indonesia (Foto: Dok MI/Aswan)
Gedung PT Telkom Indonesia (Foto: Dok MI/Aswan)

Jakarta, MI – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mencatatkan kinerja positif pada kuartal III-2025, ditopang oleh pemulihan kuat pada segmen seluler yang mendapat dorongan dari peningkatan imbal hasil (yield) layanan data.

Pendapatan dari layanan data, internet, dan IT meningkat 5,5% dibanding kuartal sebelumnya, seiring lonjakan yield data gabungan sebesar 11,2% menjadi Rp 3.400 per GB. Meskipun lalu lintas data turun 3% secara kuartalan, secara tahunan tetap meningkat 11,8%. Lonjakan tarif ini mencerminkan keberhasilan strategi penyederhanaan produk dan rasionalisasi harga serta bonus, yang mendukung perbaikan harga (price repair) pada segmen seluler. Sementara itu, pendapatan dari layanan legacy menurun drastis 22% secara kuartalan dan 34% secara tahunan, kini hanya menyumbang 6,8% dari total pendapatan seluler Telkomsel, mendekati target manajemen sebesar 5%.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta, dalam riset 7 November 2025 menilai momentum positif pada yield akan berlanjut hingga kuartal IV-2025, didorong disiplin harga dan portofolio yang lebih ramping. Meski begitu, pendapatan data untuk tahun penuh diperkirakan sedikit turun 1,8% yoy.

Segmen IndiHome masih menghadapi tekanan. Pendapatan kuartal III-2025 tercatat turun 1,7% secara kuartalan dan 2,2% secara tahunan. Kafi menjelaskan, penurunan ini terutama akibat ARPU yang turun menjadi Rp 210.000, meski jumlah pelanggan bertambah 200.000 menjadi 10,3 juta. Penurunan ARPU terjadi karena peralihan pelanggan dari paket 3P/2P ke paket 1P (internet only) dan ekspansi ke segmen entry-level di luar Jawa. Pemantauan harga pada November 2025 menunjukkan rata-rata harga IndiHome turun 3,6%, seiring peluncuran paket internet + gaming, sehingga prospek pertumbuhan jangka pendek masih menantang.

Segmen Enterprise dan Wholesale & International Business (WIB) juga melemah masing-masing 2,9% dan 7,7% qoq, terdampak anggaran pemerintah yang ketat serta penurunan struktural pada pendapatan interkoneksi.

Meski demikian, Kafi mempertahankan rekomendasi buy untuk saham TLKM dan menaikkan target harga (TP) menjadi Rp 4.000 per saham. Kenaikan target ini mencerminkan perbaikan disiplin harga dan monetisasi yield yang solid, dengan valuasi multiple EV/EBITDA +1SD (5,8x) untuk 2026. Pada Jumat (7/11), saham TLKM ditutup di Rp 3.470 per saham, turun 0,29% dari hari sebelumnya.

BRI Danareksa memperkirakan ARPU tahun 2026 dan 2027 akan meningkat menjadi Rp 45.000 dan Rp 46.100. Target ini belum memasukkan potensi re-rating dari rencana spin-off InfraCo, di mana penjualan 20%–30% saham InfraCo dengan valuasi 9–12x EV/EBITDA diperkirakan dapat menghasilkan dividen yield 5,4%–7,8%.

Terkait klaim pajak Rp 14,6 triliun, manajemen Telkom menegaskan posisi teknis kuat dengan dukungan persetujuan Kementerian Keuangan atas transfer bisnis IndiHome pada nilai buku, sehingga perusahaan belum membentuk provisi terkait hal ini.

Untuk akhir 2025, Kafi memproyeksikan pendapatan TLKM mencapai Rp 145,55 triliun dengan laba bersih Rp 20,88 triliun, dan pada 2026 pendapatan diperkirakan meningkat menjadi Rp 152,55 triliun dengan laba bersih Rp 22,18 triliun.

Topik:

Telkom PT Telkom Kinerja Telkom Telkom Kinerja Positif Telkom Tumbuh Positif Yield Data