Jumlah Entri KBBI Tembus 210 Ribu, Dora Amalia: Lonjakan Terbesar Terjadi Sejak 2024

Rizal Siregar
Rizal Siregar
Diperbarui 23 Januari 2026 21:11 WIB
Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra Badan Bahasa, Dora Amalia (Foto. Rizal Siregar)
Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra Badan Bahasa, Dora Amalia (Foto. Rizal Siregar)

Sentu, MI -  Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terus berkembang mengikuti dinamika bahasa yang hidup di masyarakat. Hingga 5 Januari 2026, jumlah entri KBBI telah menembus 210.595 entri, meningkat drastis dibandingkan edisi-edisi sebelumnya.

Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra Badan Bahasa, Dora Amalia, mengungkapkan bahwa lonjakan terbesar justru terjadi dalam dua tahun terakhir, seiring program prioritas pengayaan kosakata.

“Lonjakan yang paling besar terjadi pada 2024. Ada program prioritas untuk menambah jumlah entri KBBI hingga melampaui 200 ribu. Per Januari 2026, jumlahnya sudah mencapai 210.595 entri,” ujar Dora dalam Taklimat Media di Kantor Badan Bahasa, Sentul, Jumat (23/1/2026).

Dora menjelaskan, KBBI memiliki perjalanan panjang. Awalnya kamus ini disusun pada periode 1974–1983 dengan nama Kamus Bahasa Indonesia, sebelum kemudian disempurnakan menjadi Kamus Besar Bahasa Indonesia.

“Ketika pertama kali diluncurkan, jumlah entri baru sekitar 62 ribu. Tahun 1991 bertambah menjadi 72 ribu, lalu meningkat menjadi 90 ribu pada 2008,” katanya.

Ia menambahkan, edisi kelima KBBI yang terbit pada 2016 menjadi tonggak penting karena mulai dikelola sepenuhnya secara digital.

“Sejak 2016, pengolahan KBBI dilakukan secara daring. Karena itu jumlah entri bisa dihitung dengan sangat pasti, yaitu 108.857 entri saat pertama kali KBBI daring diluncurkan,” jelasnya.

Perkembangan signifikan terjadi sepanjang 2016–2023, ketika jumlah entri meningkat menjadi 112.036. Namun akselerasi terbesar terjadi pada 2024 hingga awal 2026.

Menurut Dora, KBBI tidak disusun dari nol, melainkan merupakan kompilasi dari kamus-kamus penting sebelumnya.

“Sumber awal KBBI berasal dari tiga kamus, yakni Kamus Indonesia karya Sutan Harahap (1942), Kamus Umum Bahasa Indonesia karya Poerwadarminta (1952), dan Kamus Modern Bahasa Indonesia karya Sutan Muhammad Zain (1951),” paparnya.

Selain versi cetak dan daring, KBBI juga dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan inklusivitas, termasuk bagi penyandang disabilitas netra.

“Kami pernah mencetak KBBI Braille sebanyak 138 jilid pada 2018 dan juga meluncurkan KBBI berbasis audio pada 2019,” kata Dora.

Saat ini, KBBI dapat diakses secara luring melalui aplikasi Android dan iOS yang telah dimutakhirkan pada Januari 2026. Jumlah pengguna terdaftar tercatat 325.388 akun, dengan total pencarian menembus lebih dari 300 juta kali.

Dora juga menegaskan bahwa KBBI bukan hanya memuat kata baku.

“KBBI adalah kamus besar, artinya ruang lingkupnya luas. Ada kata baku, tidak baku, ragam cakapan, kata klasik, hingga kata kasar, semuanya diberi label agar pengguna tahu konteks pemakaiannya,” tegasnya.

Ia mencontohkan, kata-kata viral atau informal tetap dimasukkan dengan penanda khusus.

“Justru ini mendidik. Dengan label, pengguna tahu kata mana yang tidak pantas digunakan dalam ragam resmi,” pungkasnya.

Topik:

KBBI Badan Bahasa Bahasa Indonesia Kamus Besar Bahasa Indonesia Literasi Pendidikan