DPR Soroti Kebocoran Gas Vopak Cilegon, Keselamatan Warga Jadi Alarm Nasional

Rizal Siregar
Rizal Siregar
Diperbarui 1 Februari 2026 13:38 WIB
Anggota Komisi XII DPR RI Ratna Juwita. (Dok.MI)
Anggota Komisi XII DPR RI Ratna Juwita. (Dok.MI)

Jakarta, MI - Bau menyengat dan asap kuning pekat yang menyelimuti permukiman warga di Cilegon, Banten, akhir pekan lalu, menjadi alarm serius soal keselamatan industri berisiko tinggi. Insiden kebocoran gas di kilang PT Vopak Indonesia tak hanya memicu kepanikan, tetapi juga menyeret perhatian DPR RI untuk turun tangan.

Anggota Komisi XII DPR RI, Ratna Juwita Sari, mendesak penanganan cepat, tepat, dan akurat atas peristiwa kebocoran gas kimia tersebut. Ia menilai insiden yang menimpa warga Kalibaru, Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, pada Sabtu (31/1/2026), bukanlah kejadian sepele yang bisa dianggap selesai begitu saja.

Sebanyak 46 warga, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia, harus mendapatkan perawatan medis di puskesmas setelah terpapar gas berbahaya. Asap berwarna kuning pekat yang membubung dari area pabrik menyebar cepat ke permukiman, memicu kepanikan dan keluhan kesehatan warga.

“Ini sangat mengkhawatirkan. Keselamatan karyawan, warga sekitar, hingga wisatawan harus menjadi prioritas utama. Apalagi lokasi ini berdekatan dengan kawasan wisata Pantai Anyer. Negara tidak boleh lamban dalam situasi seperti ini,” tegas Ratna, Minggu (1/2/2026).

Para korban dilaporkan mengalami gejala serius, mulai dari sesak napas, pusing hebat, mual, hingga muntah-muntah, yang mengindikasikan paparan gas kimia berbahaya. Kondisi tersebut menambah kekhawatiran masyarakat, terutama karena bau menyengat masih sempat tercium di sekitar lokasi kejadian.

Berdasarkan informasi awal, kebocoran gas diduga terjadi saat perusahaan melakukan pembersihan pipa menuju kotak EBC (kempu) di dekat tangki bernomor TK 0638. Sisa base oil di dalam pipa diduga bereaksi dengan residu bahan kimia yang masih mengendap di dalam kempu, sehingga memicu pelepasan gas beracun ke udara.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu pun menegaskan pentingnya penanganan medis maksimal bagi seluruh korban tanpa pengecualian. Selain itu, ia meminta pemerintah dan instansi terkait segera melakukan investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab pasti kebocoran gas tersebut.

Ratna juga mendesak PT Vopak Indonesia bersikap terbuka dan bertanggung jawab penuh atas dampak yang ditimbulkan, termasuk terhadap lingkungan dan kesehatan warga. Audit keselamatan dan lingkungan, menurutnya, harus segera dilakukan sebagai langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.

“Jangan sampai kepentingan industri mengorbankan keselamatan rakyat. Ini harus menjadi peringatan keras bagi seluruh industri berisiko tinggi di Indonesia,” pungkasnya.

Topik:

Kebocoran Gas DPR RI Industri Berisiko