Kerugian Banjir-Longsor Sumut Capai Rp18,47 T, Pemulihan Permukiman Warga Diprioritaskan

Rolia Pakpahan
Rolia Pakpahan
Diperbarui 22 Desember 2025 10:11 WIB
Bencana Banjir di Sumatra Utara (Foto: Tangkapan Layar)
Bencana Banjir di Sumatra Utara (Foto: Tangkapan Layar)

Jakarta, MI - Bencana banjir dan longsor yang melanda 19 kabupaten/kota di Sumatera Utara sejak Senin (24/12/2025) meninggalkan dampak kerusakan yang sangat besar. Wakil Gubernur Sumatera Utara, Surya, mengungkapkan total kerugian akibat bencana tersebut diperkirakan mencapai Rp18,37 triliun.

Menurut Surya, sektor infrastruktur menjadi salah satu yang paling terdampak. Sedikitnya 25 ruas jalan provinsi mengalami kerusakan dengan 117 titik longsor, sementara enam unit jembatan dilaporkan rusak total dan tak dapat difungsikan.

"Kerusakan masif juga menyentuh sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, hingga perumahan rakyat dengan total estimasi kerugian mencapai Rp18,37 triliun," kata Surya dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (20/12/2025).

Surya mengungkapkan informasi tersebut dalam rapat bersama Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenkoinfra) di Posko Darurat Bencana Sumut, Jalan AH Nasution, Medan. 

Ia menambahkan, distribusi bantuan logistik terus berjalan untuk memenuhi kebutuhan lebih dari 20 ribu warga yang terpaksa mengungsi akibat bencana.

Berdasarkan data terbaru, lanjut Surya, sebanyak 270,32 ton bantuan logistik telah disalurkan dari Posko Utama, ditambah 303,7 ton yang dikelola melalui Hanggar Lanud Soewondo.

Menanggapi kondisi tersebut, Deputi Bidang Koordinasi Perumahan dan Sarana Prasarana Permukiman Kemenkoinfra, Ronny Ariuly Hutahayan, menyatakan bahwa pemerintah akan memberikan perhatian khusus pada pemulihan sektor pembangunan permukiman warga yang rusak.

"Kami mendapatkan arahan langsung dari Kemenko untuk berfokus pada pembangunan kembali sektor perumahan dan permukiman yang terdampak. Salah satu prioritas utama adalah menyiapkan hunian tetap bagi para pengungsi," tutur Ronny.

Ronny menambahkan, koordinasi dengan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) akan segera dilakukan guna mempercepat langkah pelaksanaan di lapangan.

Meski demikian, Ronny menekankan pentingnya aspek keamanan lokasi di masa depan. 

"Kami meminta Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk segera memetakan wilayah dan mengusulkan lahan. Lahan tersebut harus melalui kajian risiko bencana yang ketat agar pembangunan pemukiman baru nantinya tidak berada di zona bahaya dan kejadian serupa tidak terulang di masa depan," jelas dia. 

Sebelumnya, bencana banjir dan longsor melanda 19 kabupaten/kota di Sumatera Utara pada Senin (24/11/2025).

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) per Sabtu (20/12/2025) pukul 08.00 WIB, jumlah korban jiwa mencapai 370 orang. Selain itu, 72 orang dilaporkan hilang, 933 orang mengalami luka-luka, dan sebanyak 17.759 warga terpaksa mengungsi.

Kabupaten Tapanuli Tengah tercatat sebagai daerah dengan dampak paling parah. Di wilayah ini, sebanyak 133 orang meninggal, 38 orang hilang, dan 27 orang luka-luka.

Disusul Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dengan jumlah korban meninggal sebanyak 88 orang, 30 orang hilang, serta 835 orang terluka.

Sementara itu, di Kota Sibolga tercatat 54 orang meninggal dunia, 1 orang hilang, dan 68 orang luka-luka. Adapun di Kabupaten Tapanuli Utara, jumlah korban tercatat 36 orang meninggal, 2 orang hilang, dan 3 orang luka-luka.

Topik:

banjir-dan-longsor sumut kerugian bencana-sumut