HKI: Kami Akan Kerja Keras Perbaiki Jalan di Sumbar

Zul Sikumbang
Zul Sikumbang
Diperbarui 29 Januari 2026 07:32 WIB
Direktur Operasi III Hutama Karya Infrastruktur (HKI), Aditya Novendra Jaya. Zul Sikumbang/MI
Direktur Operasi III Hutama Karya Infrastruktur (HKI), Aditya Novendra Jaya. Zul Sikumbang/MI

Tanah Datar, MI - Direktur Operasi III Hutama Karya Infrastruktur (HKI), Aditya Novendra Jaya menjelaskan, pihaknya akan bekerja keras memperbaiki jalan-jalan yang rusak akibat bencana longsor di Sumatera Barat.

Adapun proyek yang dilakukan HKI di Sumatera Barat meliputi beberapa pekerjaan utama. Pertama, penanganan bencana di kawasan Lembah Anai dan Malalak. Selain itu, terdapat proyek Sitinjau Lauik serta pembangunan Jalan Tol Padang–Sicincin yang saat ini terus berjalan.

“Untuk proyek penanganan bencana, tentu dibatasi oleh waktu karena harus segera selesai agar bisa segera dimanfaatkan oleh masyarakat. Waktu pengerjaannya sekitar satu tahun,” kata Aditya saat mendampingi Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo saat meninjau lokasi bencana di Malalak, Kabupaten Agam, Sumbar, Rabu (28/1/2026).

Khusus di kawasan Malalak, sesuai arahan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo, penanganan dilakukan secara permanen. HKI akan membangun empat jembatan permanan yang dikerjakan. Selain itu, dilakukan penanganan lereng dengan metode soil nailing (penguatan tanah) dan shotcrete (beton semprot), serta pemasangan bronjong dan sheet pile.

“Target penyelesaian penanganan di Malalak adalah Juli 2026. Namun, untuk menghadapi arus mudik Lebaran tahun ini sesuai instruksi Menteri PU, ruas jalan yang sebelumnya terputus akan disambungkan sehingga sudah bisa dilewati kendaraan dua arah,” jelasnya.

Sedangkan, di Lembah Anai, HKI menargetkan pembukaan jalan secara penuh dua arah selama 24 jam selama Ramadan. Saat ini masih diberlakukan sistem buka-tutup jalan karena keterbatasan ruang kerja dan kebutuhan penempatan alat berat.

“Kami mohon kesabaran masyarakat Sumatera Barat. Pekerjaan ini cukup padat dan kondisi cuaca menjadi tantangan, namun sudah kami perhitungkan. Dengan kondisi cuaca saat ini, kami optimistis pekerjaan bisa selesai sesuai target pada Juli 2026,” ujarnya.

Untuk meningkatkan keselamatan kerja di kawasan rawan bencana, HKI juga menerapkan teknologi early warning system. Sistem ini akan memberikan peringatan dini melalui alarm dan notifikasi ke ponsel jika terjadi peningkatan debit air dari hulu.

“Golden time dari aliran air pertama di atas hingga sampai ke lokasi kerja sekitar 20 sampai 30 menit. Waktu ini kami manfaatkan untuk menyelamatkan alat berat dan memastikan keselamatan pekerja,” ujarnya.

Terkait ketahanan infrastruktur di Lembah Anai yang dikenal rawan bencana, Aditya menegaskan bahwa desain penanganan telah disesuaikan dengan analisis curah hujan periode ulang 100 tahun.

“Artinya, jika terjadi bencana atau galodo sesuai dengan parameter desain tersebut, seharusnya tidak ada masalah. Infrastruktur yang kami bangun dirancang untuk lebih tahan terhadap terpaan alam,” tegasnya.

Ia juga menyatakan, untuk perbaikan jalan di Lembah Anai sebesar Rp470 miliar.

"Anggaran tidak masalah, alat sudah bekerja semua. Pagu anggaran perbaikan jalan Lembah Anai  Rp470 miliar.l, mudah-mudahan tidak berubah. Untuk pembangunan jembatan permanen di Malalak, anggaran sedang dikaji," ujar Aditya.

Topik:

HKi Aditya Novendra Jaya Sumbar