Tragedi Tambang Nikel Malut, Tiga Pekerja Tertimbun, Gubernur Diminta Turun Tangan

La Aswan
La Aswan
Diperbarui 21 Januari 2026 13:40 WIB
Ungahan foto akun Instagram teknikpertambangan.id yang menampilkan foto sala satu korban fatality di Maluku Utara.
Ungahan foto akun Instagram teknikpertambangan.id yang menampilkan foto sala satu korban fatality di Maluku Utara.

Sofifi, MI — Tanah longsor terjadi di area tambang nikel PT Halmahera Transportasi Energi (HTE) yang berada di site PT Mega Haltim Mineral (MHM), Jumat sore, 16 Januari 2026. Lokasi kejadian berada di Desa Ekor, Kecamatan Wasilei Selatan, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara.

Akibat peristiwa tersebut, tiga pekerja tertimbun material longsor dan hingga kini masih dalam proses pencarian dan evakuasi. Berdasarkan informasi yang dihimpun Monitorindonesia.com, identitas ketiga korban yakni:

1. Alief Alrasyid, warga Pasaran Cakke, Enrekang, Sulawesi Selatan
2. Kanel Palilingan, warga Kolongan Kolombi, Tondano, Sulawesi Utara
3. Rifaldy Datunsolang, warga Bintauna, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara

Memasuki hari ke-6 pencarian, sejak 16 Januari hingga 21 Januari 2026, ketiganya belum juga ditemukan.

Duka mendalam datang dari keluarga Rifaldy Datunsolang, seorang operator buldoser yang menjadi salah satu korban longsor. Melalui sebuah video yang diunggah akun TikTok @lantombinawa pada Selasa (20/12026), pihak keluarga menyampaikan permohonan langsung kepada Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, agar turun tangan mempercepat proses evakuasi.

Dalam pernyataannya, keluarga korban juga mendesak pihak perusahaan untuk memberikan keterangan resmi dan transparan terkait kronologi kejadian. Hingga saat ini, proses pencarian dinilai belum menunjukkan hasil yang signifikan.

“Kami mendesak pihak perusahaan mempercepat evakuasi dan menyampaikan rilis kronologis kejadian secara resmi. Kami juga berharap Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur mengerahkan tim SAR dan Basarnas untuk membantu proses pencarian,” ujar perwakilan keluarga dalam video tersebut.

Mereka juga menegaskan bahwa keselamatan manusia harus menjadi prioritas utama.

“Tidak ada nyawa yang seharga tambang. Kami hanya meminta satu hal: percepatan evakuasi dan kejelasan tanggung jawab. Dengan segala hormat kepada Ibu Gubernur, ini adalah suara duka dari keluarga korban,” ungkapnya.

Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian dan evakuasi masih terus berlangsung di lokasi kejadian. (Jainal Adaran)

Topik:

Maluku Utara Tambang Nikel Longsor Tambang Halmahera Timur Kecelakaan Kerja Evakuasi Korban Basarnas Keselamatan Kerja Industri Pertambangan