Skandal Pelayanan Penerbangan Kendari–Jakarta: Penumpang Lelah, Lapar, dan Ditinggal Tanpa Kepastian

Didin Alkindi
Didin Alkindi
Diperbarui 14 Februari 2026 3 jam yang lalu
Kondisi Bandara Halu Oleo Di Saat Pesawat Super Air Jet Gagal Terbang. (Foto: Dok Ist)
Kondisi Bandara Halu Oleo Di Saat Pesawat Super Air Jet Gagal Terbang. (Foto: Dok Ist)

Jakarta, MI – Harapan ratusan penumpang rute Kendari–Jakarta berubah menjadi malam panjang penuh ketidakpastian. Selama hampir tujuh jam, para penumpang “digiring” oleh janji keberangkatan yang terus mundur, hingga akhirnya Super Air Jet resmi membatalkan penerbangan di tengah malam.

Ironisnya, sorotan tajam tak hanya diarahkan kepada maskapai. Otoritas Bandara Haluoleo justru ikut diseret dalam pusaran kritik karena dinilai pasif, abai, dan membiarkan penumpang telantar tanpa perlindungan yang semestinya.

Ramli, salah satu penumpang, mengungkapkan bagaimana penundaan itu berubah menjadi drama panjang yang melelahkan. Ia sudah berada di bandara sejak pukul 15.00 WITA. Jadwal boarding pukul 17.35 WITA untuk keberangkatan 18.05 WITA mendadak menjadi rangkaian pengumuman tanpa kepastian:

Pada pukul 19.00 WITA – Penundaan pertama diumumkan, pukul 21.00 WITA – Janji kembali meleset, emosi penumpang mulai memuncak. 23.00 WITA – Pengumuman mundur lagi, tanpa kepastian fisik pesawat. 

Tengah malam Keputusan final, penerbangan dibatalkan dan ditunda keesokan hari. 

Di tengah kelelahan, kebingungan, dan minimnya informasi, peran otoritas bandara nyaris tak terlihat. Tidak ada penjelasan tegas, tidak ada tekanan terbuka kepada maskapai, dan tidak ada upaya nyata meredam kegelisahan ratusan penumpang.

“Kami sudah di bandara dari jam tiga sore. Kami lelah, lapar, dan bingung. Tapi pihak bandara seolah tidak mau tahu. Kami dibiarkan berjam-jam tanpa kepastian. Fungsi pengawasan mereka di mana?” tegas Ramli kapada Monitorindonesia.com, Sabtu (14/2/2026). 

Menurutnya, otoritas bandara seharusnya hadir sebagai pelindung hak konsumen, memastikan standar pelayanan minimum dipenuhi, sekaligus memaksa maskapai bersikap jujur sejak awal, bukan membiarkan informasi dicicil hingga larut malam.

Kekecewaan memuncak ketika pembatalan diumumkan saat kondisi fisik dan mental penumpang sudah terkuras. Banyak di antara mereka tidak memiliki tempat tinggal di Kendari dan akhirnya terlunta-lunta, karena tidak ada pos bantuan, tidak ada respons cepat, dan tidak ada mekanisme penanganan keluhan yang jelas dari pihak bandara.

“Kalau memang pesawat sudah bermasalah sejak sore, kenapa baru tengah malam kami diberi tahu batal? Pihak bandara juga hanya diam melihat maskapai mempermainkan waktu kami,” lanjut Ramli.

Peristiwa ini meninggalkan satu pertanyaan besar di benak publik:

apakah otoritas bandara masih berfungsi sebagai pengawas layanan, atau sekadar menjadi penonton saat ratusan warga dipermainkan oleh ketidakpastian. 

 

Topik:

Super Air Jet Bandara Haluoleo penerbangan batal penundaan berjam-jam penumpang terlantar Kendari–Jakarta