Pandu Sjahrir soal Saham Gorengan: Jangan hanya Salahkan Pemainnya

Rolia Pakpahan
Rolia Pakpahan
Diperbarui 2 Februari 2026 12:28 WIB
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir (Foto: Dok MI)
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir (Foto: Dok MI)

Jakarta, MI - Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, ikut angkat bicara soal istilah “saham gorengan” yang kini ramai dibicarakan seiring dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir.

Menurut Pandu, sebutan saham gorengan kerap muncul dari sudut pandang investor. Sementara itu, Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyebutnya dengan istilah uninvestability.

"Kalau MSCI menyebutnya uninvestability. Kenapa? Karena mungkin secara valuasi sangat tinggi. Valuasi itu apa? Misalnya secara EV to sales, EV to EBITDA atau price to earning ratio yang sangat tinggi. Apakah itu make sense? Sebenarnya kan itu," jelasnya di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Minggu (1/2/2026).

Dengan kata lain, saham-saham tersebut umumnya memiliki valuasi yang sangat tinggi, namun tidak sesuai dengan fundamentalnya. Penilaian valuasi itu tercermin dari rasio seperti EV to sales, EV to EBITDA, hingga price to earning ratio.

Kondisi ini menjadi sorotan investor asing yang mempertanyakan dasar valuasi saham-saham tersebut. Namun demikian, Pandu menyebut jangan hanya menyalahkan pemainnya tapi lebih kepada sistemnya.

"Dan itu banyak memang masukan-masukan dari investor-investor asing yang merasa kok ini bisa valuasi price to earning bisa sampai ribuan lebih. Jadi sebenarnya lebih kalau disebut bahasa saham gorengan itu kesana. Tapi yang saya bilang juga, yang saya sebut dua hari terakhir, don't hate the player, hate the game," tutur Pandu.

Oleh karena itu, Pandu menilai pembenahan perlu difokuskan pada sistem dan tata kelola pasar, baik di level Bursa maupun ekosistem pasar modal secara keseluruhan. Terlebih, Danantara juga berperan sebagai investor aktif di pasar modal Indonesia.

"Yang harus diperbaiki memang kita sebagai Bursa ataupun kita tuh harus bisa lebih baik lagi. Saya kan juga market participant. Di sini, di Danantara pun kita melakukan investment," ujarnya.

Dalam menentukan keputusan investasi, Danantara mengedepankan perusahaan-perusahaan dengan fundamental yang kuat, valuasi yang menarik, serta likuiditas saham yang baik. 

Menurut Pandu, likuiditas menjadi faktor penting dalam menentukan kelayakan investasi.

"Kita ingin melakukan investment ke perusahaan-perusahaan yang memiliki fundamental yang sangat baik, company yang sangat baik, dengan valuasi yang menarik, dan terakhir likuiditas yang bagus. Itu juga sangat penting," pungkasnya.

Topik:

danantara saham-gorengan pasar-modal