Outlook Negatif Moody’s, BEI: Fundamental Emiten Dinilai Tetap Kuat

Dian Ihsan
Dian Ihsan
Diperbarui 9 Februari 2026 3 jam yang lalu
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: Dok. MI)
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (BEI). (Foto: Dok. MI)

Jakarta, MI - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) merespons keputusan Moody’s Investors Service yang menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif, meski tetap mempertahankan peringkat Baa2 (investment grade). Kebijakan tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap pasar modal domestik.

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik menegaskan, hingga saat ini kondisi fundamental emiten yang tercatat di BEI masih solid dan belum menunjukkan pelemahan signifikan.

"Terkait outlook Moody’s, kami melihat dari sisi mikro pasar bahwa sejauh ini fundamental perusahaan-perusahaan tercatat di Bursa masih kuat," ucap Jeffrey saat ditemui dalam konferensi pers "Perkembangan Terkini Pasar Modal Indonesia" di Gedung BEI, Jakarta, Senin (9/2/2026).

Meski demikian, Jeffrey mengimbau para investor untuk tetap bersikap rasional dan cermat dalam mengambil keputusan investasi. 

Investor, bilang dia, diharapkan fokus pada kinerja dan fundamental perusahaan, serta menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko masing-masing.

Jeffrey menilai pendekatan tersebut penting untuk menjaga ketenangan pasar di tengah dinamika global dan sentimen eksternal yang dapat memengaruhi pergerakan pasar modal Indonesia.

Moody’s Ratings tetap mempertahankan peringkat kredit Pemerintah Indonesia di level Baa2 atau kategori layak investasi (investment grade). Namun, lembaga pemeringkat itu menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Dalam laporannya pada Kamis (5/2/2026), disebutkan bahwa penurunan outlook Indonesia oleh Moody's disebabkan oleh berkurangnya kepastian dan konsistensi dalam perumusan kebijakan. Kondisi ini dinilai berpotensi melemahkan efektivitas kebijakan serta kredibilitas institusi. 

Meski begitu, Moody’s menegaskan fondasi ekonomi Indonesia masih relatif kuat dan belum mengalami perubahan yang signifikan.

Moody’s memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di kisaran 5% dalam jangka pendek hingga menengah. Sementara itu, defisit fiskal diperkirakan tetap terjaga di bawah 3% dari produk domestik bruto (PDB). Kebijakan fiskal dan moneter yang cenderung berhati-hati dinilai masih mampu menopang stabilitas makroekonomi.

Dari sisi pembiayaan, rasio utang pemerintah Indonesia diperkirakan tetap berada di bawah median negara-negara dengan peringkat Baa. Kondisi ini memberikan bantalan terhadap tekanan eksternal dan menjadi salah satu alasan utama peringkat Indonesia tetap dipertahankan di level investment grade, meski prospeknya memburuk.

Namun demikian, Moody’s mengingatkan bahwa pelemahan kredibilitas kebijakan dapat dengan cepat mengubah prospek stabilitas tersebut. Fokus pemerintah pada peningkatan belanja publik untuk mendorong pertumbuhan, di tengah basis penerimaan negara yang masih terbatas, berpotensi meningkatkan risiko fiskal apabila tidak disertai reformasi penerimaan yang berkelanjutan.

Moody’s juga menyoroti pembentukan dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) Danantara, yang dinilai masih menyisakan sejumlah ketidakpastian, terutama terkait tata kelola, prioritas investasi, serta potensi risiko kewajiban kontinjensi bagi negara. 

Selain itu, meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap kondisi ekonomi dan ketersediaan lapangan kerja turut dicatat sebagai faktor risiko tambahan.

Ke depan, Moody’s mengaku akan terus memantau arah kebijakan fiskal dan moneter, efektivitas tata kelola, serta respons pemerintah dalam menjaga kredibilitas kebijakan. 

Kejelasan dan konsistensi kebijakan dinilai menjadi kunci utama untuk mencegah penurunan peringkat kredit Indonesia di tengah outlook yang kini berstatus negatif.

Topik:

bei moodys