Abdul Hakim Bafaqih Kepada Dirut PLN: Apa Kami Semua Bodoh?

Zul Sikumbang
Zul Sikumbang
Diperbarui 21 Januari 2026 17:30 WIB
Rapat Kerja Komisi VI DPR RI dengan Direktur Utama PT PLN, Darmawan Prasojo di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (21/1/2026). Foto:MI/Zul Sikumbang
Rapat Kerja Komisi VI DPR RI dengan Direktur Utama PT PLN, Darmawan Prasojo di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (21/1/2026). Foto:MI/Zul Sikumbang

Jakarta, MI - Anggota Komisi VI DPR RI, Abdul Hakim Bafaqih mengaku kecewa karena Direktur Utama PT PLN, Darmawan Prasojo tidak mencantumkan data-data secara komprehensif dalam paparannya dihadapan Komisi VI DPR RI, termasuk utang PLN yang mencapai Rp700 triliun.

"Saya kuatir tim anda membuat materi seolah-olah kami di Komisi VI tidak mengerti, seolah-olah Komisi VI tidak membutuhkan materi yang komprehensif. Apa kita semua disini bodoh untuk tidak kemudian memberikan data-data tersebut," kata Abdul Hakim dalam rapat kerja Komisi VI DPR RI dengan Dirut PLN, Darmawan Prasojo di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (21/1/2026).

Politisi PAN itu menambahkan, paparan  Dirut PLN tidak menjelaskan langkah selanjutnya pasca bencana Sumatera.

"Setelah ini mau ngapain pak, ini hanya cerita-cerita, sudah begini sudah begitu, sudah ditarik beberapa raturs meter, sampai melengkung, kita apresiasi karena kewajiban PLN sebagai penyedia listrik, tapi setelah ini mau ngapain?" tanya Abdul Hakim.

Ia juga menyayangkan tidak adanya penjelasan utang PLN yang mencapai Rp700 triliun.

"Tapi berapa dana yang diperlukan, apakah mengambil dari ekuitasnya atau menerbitkan utang kembali yang saat ini posisi utang PLN sekitar 700 triliun, ini gak ada. Salah satu yang menggerus PLN adalah utang dalam bentuk dolar AS dan pembayaran dalam bentuk rupiah, dan itu yang menggerus, ada selisih dalam kurs dan dolar AS sekarang naik," pungkas Abdul Hakim.

Topik:

Abdul Hakim Bafaqih Komisi VI DPR RI Raker Komisi VI Darmawan Prasojo Dirut PLN