Danantara Masih Kaji Pembentukan BUMN Tekstil

Rolia Pakpahan
Rolia Pakpahan
Diperbarui 19 Januari 2026 11:59 WIB
CEO Danantara Rosan Roeslani (Foto: Ist)
CEO Danantara Rosan Roeslani (Foto: Ist)

Jakarta, MI - CEO Danantara Rosan Roeslani menegaskan bahwa rencana pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) di sektor tekstil masih dalam tahap kajian mendalam. 

Menurutnya, setiap rencana investasi yang dijalankan Danantara terlebih dahulu melalui studi kelayakan (feasibility study) dan asesmen menyeluruh, termasuk terhadap sektor tekstil yang saat ini tengah menjadi perhatian pemerintah.

"Kita di Danantara, semuanya tentunya investasi yang kita lakukan itu sudah dalam feasibility study atau assessment yang penuh dari segala macam sektor. Tentunya juga kita ada kriteria-kriteria atau parameter-parameter yang harus kita penuhi. Termasuk juga, parameter yang kita masuk itu adalah lapangan pekerjaan," kata Rosan, dikutip Minggu (18/1/2026).

Ia menambahkan, Danantara terbuka untuk masuk ke investasi dengan tingkat imbal hasil di bawah parameter yang ditetapkan, sepanjang investasi tersebut mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar.

Rosan mencontohkan industri tekstil sebagai sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja yang tinggi, sehingga memiliki potensi besar untuk dikembangkan, sehingga Danantara akan melihat peluang yang ada, terutama terhadap perusahaan-perusahaan yang telah masuk dalam kategori aset bermasalah (distressed asset)

“Kita melihat potensi-potensi yang ada saja, apalagi kalau itu sudah termasuk dalam distressed asset," ujar Rosan. 

Menanggapi pertanyaan terkait kepastian pembentukan BUMN tekstil baru, Rosan menegaskan bahwa Danantara masih membuka berbagai opsi dan belum mengambil keputusan final. “Kita masih melihat opsi-opsinya," ucapnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah berencana membentuk BUMN khusus di sektor tekstil. Kebijakan tersebut merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto saat rapat di Hambalang, Bogor, Jawa Barat (11/1/2026) lalu.

Menurut Airlangga, industri tekstil dan garmen menjadi garda terdepan dalam menghadapi risiko kebijakan tarif AS. 

"Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali, sehingga pendanaan 6 miliar (dolar AS) nanti akan disiapkan oleh Danantara," jelas Airlangga dalam acara Indonesian Business Council (IBC) Business Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Ia menuturkan, berdasarkan hasil kajian yang telah diselesaikan, rencana tersebut akan dilanjutkan dengan penyusunan peta jalan (roadmap) penguatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Untuk mendukung kebijakan itu, Pemerintah menyiapkan pendanaan sebesar 6 miliar dolar AS melalui BPI Danantara.

Pendanaan tersebut akan difokuskan pada pengadaan barang modal, penerapan teknologi baru, serta penguatan kinerja ekspor sektor tekstil. 

"Oleh karena itu sudah dibuat roadmap bagaimana meningkatkan ekspor kita yang dari 4 miliar (dolar AS), bisa naik ke 40 miliar (dolar AS) dalam 10 tahun l, dan bagaimana pendalaman dari value chain daripada industri tekstil," imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Airlangga juga mengakui masih terdapat sejumlah kelemahan pada rantai nilai (value chain) tekstil, terutama pada produksi benang, kain, dyeing, printing, dan finishing.

Topik:

bumn-tekstil danantara