Investasi Capai Target Tapi Setoran Pajak Belum Optimal, Ini Penjelasan Rosan

Rolia Pakpahan
Rolia Pakpahan
Diperbarui 17 Januari 2026 17:25 WIB
Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani (Foto: Dok MI)
Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani (Foto: Dok MI)

Jakarta, MI - Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani angkat bicara terkait realisasi investasi yang meningkat, namun belum sepenuhnya diikuti oleh kenaikan penerimaan negara, khususnya dari sektor pajak.

Rosan menegaskan, investasi pada dasarnya merupakan komitmen jangka panjang. Menurutnya, dampak fiskal dari masuknya investasi tidak selalu dapat dirasakan dalam waktu singkat.

Pemerintah, kata Rosan, memberikan insentif untuk menarik investasi. Ia optimistis modal yang telah ditanamkan pada akhirnya akan berkontribusi terhadap penerimaan pajak negara.

"Saya yakin ini ke depannya juga akan terus memberikan kontribusi yang positif terhadap APBN kita. Karena memang pajak-pajak yang tercipta dari investasi yang masuk ini itu, karena ini adalah investasi long term commitment, long term investasi jangka panjang," ujar Rosan dalam konferensi pers di kantor Kementerian Investasi, Jakarta Selatan, Kamis (15/1/2026).

Rosan menilai manfaat investasi tidak dapat dirasakan secara instan. Namun seiring waktu, kontribusinya akan terus bertumbuh dan semakin besar terhadap APBN.

Ia menambahkan, investasi juga tidak hanya diukur dari aspek finansial semata, melainkan juga dari sumber daya manusia, termasuk penciptaan lapangan kerja.

Rosan mencontohkan sektor pertanian yang nilai investasinya mungkin lebih kecil dibandingkan sektor lain, tapi penyerapan tenaga kerjanya lebih besar.

"Contohnya di hilirisasi di kelapa nilainya US$100 juta dan penciptaan lapangan pekerjaannya itu mencapai 10 ribu orang. Biasanya kan kalau di hilirisasi mineral itu angkanya US$1 miliar, US$2 miliar, US$4 miliar, tetapi memang inilah kita coba cari keseimbangan," jelas Rosan.

Rosan menyebut realisasi investasi mencapai Rp1.931,2 triliun sepanjang 2025 atau 101,3 persen dari target. Angka itu tumbuh 12,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya (year on year/ yoy) dan 101,3 persen dari target investasi 2025 yang dipatok Rp1.905,6 triliun.

"Target investasi 2025 sebesar Rp1.905,6 triliun alhamdulillah tercapai, bahkan lebih sedikit dari target yang dicanangkan," imbuhnya.

Di sisi lain, Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak neto sepanjang 2025 mengalami penurunan sebesar 0,7 persen menjadi Rp1.917,6 triliun, dibandingkan capaian 2024 sebesar Rp 1.931,6 triliun.

Meski demikian, secara bruto penerimaan pajak justru masih menunjukkan peningkatan sebesar 3,7 persen, dari Rp2.197,3 triliun pada 2024 menjadi Rp2.278,8 triliun pada 2025.

Topik:

rosan-roeslani pajak investasi