Prabowo: Indonesia Tetap Non-Blok, Tak akan Ikut Pakta Militer Mana pun!

Rolia Pakpahan
Rolia Pakpahan
Diperbarui 2 Februari 2026 13:59 WIB
Presiden Prabowo Subianto dalam taklimat Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Bogor (Foto: Tangkapan Layar)
Presiden Prabowo Subianto dalam taklimat Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Bogor (Foto: Tangkapan Layar)

Jakarta, MI - Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tidak akan bergabung dengan pakta militer mana pun. Ia memastikan kebijakan politik luar negeri Indonesia tetap berpegang pada prinsip bebas aktif dan non-blok.

Penegasan tersebut disampaikan Prabowo saat menanggapi berbagai prediksi mengenai potensi pecahnya Perang Dunia Ketiga serta kemungkinan dampaknya bagi Indonesia. 

Ia menilai, prinsip non-blok merupakan warisan para pendiri bangsa yang hingga kini terus dijalankan.

“Karena itu saya jalankan sebagai mandataris, meneruskan warisan pendiri-pendiri bangsa kita, saya menjalankan politik luar negeri yang menganut tetap garis kita bebas aktif tapi non-align, non-blok. Kita tidak akan ikut pakta militer mana pun,” ujar Prabowo dalam taklimat Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).

Prabowo juga mengungkapkan filosofi kebijakan luar negeri yang dipegang, yakni memiliki seribu kawan terlalu sedikit, sementara satu lawan sudah terlalu banyak. Ia menyadari sepenuhnya risiko dan konsekuensi dari sikap non-blok yang dipilih Indonesia.

“Itu garis kita. Tapi kita mengerti semua, ya, kita mengerti semua. Kalau kita sungguh-sungguh mau non-blok, kalau kita sungguh-sungguh mau tidak terlibat dalam pakta, kalau kita sungguh-sungguh mau bersahabat sama semua, berarti kita sendiri. Kalau kita diancam, kalau kita diserang, tidak akan ada yang bantu kita, Saudara-saudara. Percaya sama saya, nobody is going to help us,” terang Prabowo.

Oleh karena itu, Prabowo menekankan pentingnya Indonesia menjadi bangsa yang kuat dan mandiri. Ia mengingatkan pesan para pendiri bangsa agar Indonesia mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri.

“Karena itu dari awal Bung Karno mengatakan kita harus berdiri di atas kaki kita sendiri dan panglima besar kita yang pertama, Panglima Besar Sudirman, mengajarkan kepada kita, kita harus percaya kepada kekuatan kita sendiri,” tuturnya.

Prabowo kemudian menyoroti kondisi dunia dan dinamika geopolitik global. Ia menilai realitas internasional menunjukkan negara kuat cenderung bertindak sesuai kehendaknya, sementara negara lemah harus menanggung dampaknya.

“Saudara-saudara, dengan segala hormat kepada para pakar yang pandai dan pintar, yang punya banyak gelar saya hormati mereka, tapi dunia ini adalah keadaan nyata, bukan keadaan ideal. Saya selalu mengingatkan mengajarkan yang berlaku di dunia ini sekarang adalah yang kuat akan berbuat apa yang mereka kehendaki. Yang lemah akan menderita. Itu yang kita lihat hari ini, kita lihat di mana-mana,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa sebagai presiden, tanggung jawab utamanya adalah menjaga keselamatan bangsa dan rakyat Indonesia. Untuk itu, Indonesia akan bersikap baik kepada semua pihak demi melindungi kepentingan nasional, meski pun hal itu tidak selalu mudah dijalankan.

“Kadang-kadang gampang untuk kita bilang, gampang kita ngomong, tapi kadang-kadang tidak gampang untuk dilaksanakan. Kadang-kadang hati kita bergejolak, tapi kita harus senyum karena kita sudah memilih akan baik sama semua, untuk melindungi rakyat kita,” kata Prabowo.

“Kita tidak bisa emosional, kita tidak bisa terlalu idealis karena yang berlaku adalah dunia nyata, Saudara-saudara. Karena kita tidak mau perang. Kita harus siap untuk perang. Kita tidak niat mengancam siapa-siapa tapi selalu mereka ganggu kita. Kenapa Saudara-saudara? Karena Indonesia, Nusantara kita, semua pulau-pulau kita adalah kaya dengan sumber daya alam yang luar biasa,” pungkasnya.

Topik:

presiden-prabowo-subianto negara-non-blok politik