Tanah Bergerak di Semarang, Rumah Roboh dan Warga Mengungsi

Rolia Pakpahan
Rolia Pakpahan
Diperbarui 23 Februari 2026 3 jam yang lalu
Rumah roboh akibat tanah bergerak di Semarang (Foto: Repro)
Rumah roboh akibat tanah bergerak di Semarang (Foto: Repro)

Semarang, MI - Fenomena tanah bergerak kembali terjadi di Semarang, Jawa Tengah, setelah sebelumnya melanda satu desa di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang. Kini, bencana serupa meluas ke Kecamatan Gunungpati, tepatnya di Kelurahan Sukorejo, termasuk Desa Deliksari dan Kalialang Baru.

Di Desa Deliksari RT 03 RW 06, sebuah rumah milik Arianto roboh pada Senin (23/2/2026) siang setelah diguyur hujan deras. Saat kejadian, Arianto dan keluarganya berada di dalam rumah dan berhasil menyelamatkan diri setelah mendengar suara gemuruh sesaat setelah hujan reda.

Arianto menceritakan bahwa fondasi rumahnya tiba-tiba bergeser sebelum bangunan ambruk total, sehingga semua perabotan dan isi rumah rusak dan tak sempat diselamatkan. Ia bersama istri dan dua anaknya berhasil selamat, namun mengalami trauma dan saat ini mengungsi ke rumah kerabat.

"Pertama-tama itu hujan lebat terus angin. Tanahnya ambles dan rumah roboh. Sementara mengungsi di rumah orang tua," ujar Arianto di lokasi.

Hingga kini, belum ada bantuan dari Pemerintah Kota melalui dinas terkait untuk penanganan rumah roboh akibat fenomena tanah bergerak tersebut. 

Tak hanya rumah Arianto, rumah milik Ponirah di desa yang sama juga lebih dulu roboh pada Sabtu malam saat hujan deras mengguyur. Sisa bangunan yang hanya menyisakan toilet dan lantai kini bergeser sekitar 10 meter dari lokasi semula.

Ketua RT 03 RW 06 setempat, Yanuarto mengatakan bahwa pergerakan tanah masih terus terjadi, terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi.

Sementara itu, berjarak sekitar 500 meter dari Deliksari, tanah bergerak juga terjadi di Kalialang Baru. Wilayah ini berada pada satu garis patahan Sesar Gombel Semarang. Akibatnya, jalan desa ambles dan terputus, membuat 15 kepala keluarga (KK) terisolasi karena akses utama tidak bisa dilalui.

"Kalau di RT 3 itu kurang lebih ada 51 KK," katanya.

Sebanyak 25 rumah di Kalialang Baru RT 03 RW 07 terdampak. Kondisinya memprihatinkan, dengan musala miring, tembok retak hingga 20 cm, lantai bergelombang, dan dinding condong.

Warga setempat, Joko Susilo, menyebut peristiwa ini terjadi bersamaan dengan tanah bergerak di Kampung Sekip, Jangli, Kecamatan Tembalang sejak sebulan lalu. Namun dalam sepekan terakhir, kondisinya semakin parah. Setiap hujan turun, retakan tanah terus melebar dan pergerakan semakin terasa.

Warga berharap Pemerintah Kota Semarang segera turun tangan, termasuk mempertimbangkan relokasi ke area yang lebih aman, guna mencegah jatuhnya korban jiwa jika pergerakan tanah terus berlanjut.

Topik:

tanah-bergerak semarang