BNPB Kebut Pemulihan, Warga Aceh Ditargetkan Bisa Bertani Lagi Februari 2026

Rolia Pakpahan
Rolia Pakpahan
Diperbarui 23 Februari 2026 4 jam yang lalu
Pemulihan area persawahan di Kampung Toweren, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah (Foto: Dok BNPB)
Pemulihan area persawahan di Kampung Toweren, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah (Foto: Dok BNPB)

Jakarta, MI - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menargetkan warga Aceh Tengah dapat segera kembali bertani saat musim tanam yang berlangsung pada periode Februari hingga April 2026.

Untuk itu, BNPB mempercepat proses pembersihan lahan pertanian yang terdampak banjir bandang di Kampung Toweren, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa secara geografis Kampung Toweren berada di kawasan perbukitan dataran tinggi Gayo yang rentan terhadap cuaca ekstrem.

Ia menjelaskan, curah hujan tinggi dalam waktu lama membuat lereng tak lagi mampu menahan debit air, sehingga memicu banjir bandang dari daerah hulu. Kondisi tersebut terjadi menyusul hujan ekstrem akibat Siklon Senyar yang melanda sebagian besar wilayah Aceh termasuk Kabupaten Aceh Tengah.

"Akibat kejadian tersebut, lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat tertutup sedimen lumpur tebal dan material kayu, sehingga aktivitas bertani sempat terhenti karena sawah tidak dapat digarap," kata Abdul Muhari di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Ia menyatakan, Kampung Toweren berubah drastis setelah diterjang bencana besar tersebut. Area persawahan yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat tertimbun material kayu serta lapisan lumpur tebal.

"Kondisi ini memaksa para petani untuk berhenti beraktivitas, karena hamparan sawah mereka kini menyerupai "hutan kayu" yang berserakan," imbuhnya.

Sejak Minggu (22/2/2026), BNPB bersama pemerintah desa dan unsur terkait menggencarkan pembersihan. Sejumlah alat berat dikerahkan dengan prioritas memindahkan gelondongan kayu dari areal persawahan.

Abdul menambahkan, dalam proses itu material kayu untuk sementara dipindahkan ke lahan kosong milik warga yang lebih stabil untuk membuka akses lahan.

BNPB memastikan warga Lut Tawar turut memanfaatkan kayu yang terbawa arus banjir sebagai bahan bangunan untuk memperbaiki rumah yang rusak maupun sebagai kayu bakar. Dengan demikian, material bencana dapat memberikan nilai guna dalam proses pemulihan.

Namun demikian, ia mengakui volume lumpur dan kayu yang menimbun area persawahan menjadi tantangan tersendiri. BNPB berkoordinasi dengan lintas kementerian dan lembaga untuk menambah dukungan alat berat guna mempercepat pengerukan sedimen dan pemindahan kayu berukuran besar.

BNPB berharap sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat mampu segera mengembalikan produktivitas lahan pertanian di Kampung Toweren, sehingga aktivitas ekonomi warga dapat kembali pulih seperti sediakala.

Topik:

bnpb aceh bencana-banjir musim-tanam