267 Emiten Belum Penuhi Free Float 15%, BEI Perkirakan Pasar Perlu Serap Rp187 Triliun

Dian Ihsan
Dian Ihsan
Diperbarui 19 Februari 2026 3 jam yang lalu
Gedung PT Bursa Efek Indonesia yang terletak di Jakarta. (Foto: Dok MI)
Gedung PT Bursa Efek Indonesia yang terletak di Jakarta. (Foto: Dok MI)

Jakarta, MI - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 267 emiten yang masih belum memenuhi ketentuan porsi saham beredar di publik (free float) minimum 15 persen. 

Data itu berasal dari pemantauan BEI atas Laporan Bulanan Kegiatan Registrasi Kepemilikan Saham per 31 Desember 2025 yang disampaikan masing-masing emiten.

"Sebanyak 267 emiten memang sudah free float 7,5% (aturan lama), tapi belum memenuhi ketentuan 15% (aturan yang baru)," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (19/2/2026).

Demi mencapai ketentuan itu, pasar perlu menyerap tambahan kapitalisasi pasar sekitar Rp187 triliun dari 267 emiten tersebut. 

Nilai ini mencerminkan potensi saham tambahan yang perlu dilepas ke publik agar struktur kepemilikan saham sesuai dengan aturan BEI.

"Potensi tambahan market cap yang harus diserap pasar untuk memenuhi free float 15 persen sekitar Rp187 triliun," ungkap dia.

Sebelumnya, BEI telah menetapkan 49 emiten sebagai prioritas dalam upaya meningkatkan likuiditas pasar modal melalui pemenuhan ketentuan porsi saham publik minimum 15 persen. 

Dari total 267 emiten yang belum patuh, 49 emiten ini merepresentasikan sekitar 90 persen dari total kapitalisasi pasar kelompok emiten yang belum memenuhi ketentuan free float.

"Kalau kita lihat, 49 emiten ini saja sudah mewakili sekitar 90 persen dari market cap emiten yang belum memenuhi. Karena itu, kami prioritaskan 49 emiten tersebut," kata Nyoman di Jakarta, pada Rabu (4/2/2026).

Menurut Nyoman, sebanyak 49 emiten prioritas tersebut berasal dari berbagai sektor usaha dan memiliki kondisi keuangan yang relatif memadai untuk melakukan aksi korporasi guna meningkatkan porsi saham publik. 

"Ini diharapkan bisa menjadi pilot project, sekaligus contoh dan referensi bagi emiten lain dalam memulai peningkatan free float," ujar Nyoman.

Topik:

bei emiten free-float