Suku Bunga Turun, BI: Perbankan Mulai Agresif Salurkan Kredit

Dian Ihsan
Dian Ihsan
Diperbarui 27 Februari 2026 9 jam yang lalu
Gedung Bank Indonesia. (Foto: Dok MI)
Gedung Bank Indonesia. (Foto: Dok MI)

Jakarta, MI - Bank Indonesia (BI) menilai perbankan mulai meningkatkan penyaluran kredit seiring turunnya suku bunga pinjaman. Hal itu terlihat setelah BI memangkas BI Rate total 150 basis poin sepanjang 2025.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menyebut, penurunan suku bunga kredit baru sudah cukup terasa.

"Untuk kredit baru, suku bunga sudah turun sekitar 88 basis poin. Ini menunjukkan bank sebenarnya sudah siap, dan minat menyalurkan kredit (lending appetite) mulai meningkat," kata Destry di Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Dari sisi fundamental, Destry menegaskan kondisi industri perbankan masih sangat sehat. 

Sementara itu, ikuiditas perbankan berada di level 27,6%, sementara Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 25,9%, jauh di atas ambang batas minimum 8%. Dengan kondisi tersebut, bank dinilai memiliki ruang yang cukup luas untuk memperbesar penyaluran kredit.

Untuk mendorong intermediasi, BI juga memberikan insentif melalui kebijakan Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang dibagi menjadi dua jalur.

Pertama, lending channel bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas. Kedua, interest rate channel bagi bank yang cepat menurunkan suku bunga kredit sebagai respons kebijakan moneter.

Dari total insentif KLM sebesar Rp427,5 triliun, sekitar Rp357,9 triliun disalurkan melalui lending channel, sementara Rp69,6 triliun melalui interest rate channel.

"Padahal interest rate channel ini baru diperkenalkan sekitar dua bulan terakhir. Artinya, waktunya pas karena bank memang mulai menurunkan suku bunga," jelas Destry.

Meski optimistis kredit akan tumbuh, BI masih menyoroti tantangan berupa besarnya kredit yang belum ditarik (undisbursed loan). Nilainya saat ini mencapai Rp2.506 triliun, atau sekitar 22,65% dari total plafon kredit yang tersedia.

"Angka ini cukup besar dan perlu terus didorong agar bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi ke depan," tutup Destry.

Topik:

bi-rate suku-bunga-turun bi kredit-perbankan