Catatan Kecil HUT PERUJA ke-6

Adelio Pratama
Adelio Pratama
Diperbarui 31 Desember 2025 22:36 WIB
Sejumlah perupa Jakarta (PERUJA) sedang melakukan OTS (On The Spot) melukis bersama di dalam Gedung Balai Budaya, Jl. Gereja Theresia No. 47, Jakarta Pusat, Selasa (30/12/2025). (Foto: Dok MI/Gatot Eko Cahyono)
Sejumlah perupa Jakarta (PERUJA) sedang melakukan OTS (On The Spot) melukis bersama di dalam Gedung Balai Budaya, Jl. Gereja Theresia No. 47, Jakarta Pusat, Selasa (30/12/2025). (Foto: Dok MI/Gatot Eko Cahyono)

Jakarta, MI - PERUJA adalah komunitas perupa Jakarta yang didirikan pada tahun 2019 dan telah berbadan hukum. Komunitas ini diketuai oleh Rindi Atmoko, alumni FSRD ISI Yogyakarta. Dalam rangka memperingati ulang tahun ke-6, PERUJA mengadakan beberapa kegiatan, di antaranya melukis bersama (OTS), pemotongan tumpeng, dan diskusi (Selasa, 30 Desember 2025, di Balai Budaya, Jl. Gereja Theresia, Jakarta Pusat).

Esensi dari diskusi tersebut merupakan refleksi akhir tahun atas kiprah PERUJA saat ini dan arah geraknya ke depan. Selama ini PERUJA cukup sering mengadakan pameran seni rupa, khususnya di Jakarta.

Ruang Dialog

Melihat perjalanan sejarah seni rupa Indonesia, telah banyak muncul komunitas perupa dan pelukis, seperti “Persagi” (1937) yang diketuai oleh Agus Djaya dengan Sudjojono sebagai sekretaris, serta komunitas pelukis rakyat dan lainnya. Sebuah komunitas atau organisasi apa pun membutuhkan komitmen, kekompakan, kerja nyata, serta konsistensi bersama untuk mencapai tujuan organisasi maupun tujuan personal anggotanya.

Komunitas perupa seperti PERUJA dapat menjadi ruang dialog antaranggotanya maupun antara perupa dengan masyarakat dan pemerintah. Para anggota perlu saling bertukar pikiran dan pengalaman, berdiskusi aktif, dan menjalankan asas saling asah, asih, dan asuh. Dengan demikian tercipta dinamika positif dalam setiap aktivitas organisasi. Karya seni rupa merupakan pengejawantahan jiwa seniman dalam merespons fenomena sosial. Seniman dituntut untuk peka dalam olah pikir, olah rasa, dan olah imajinasi hingga terwujud dalam karya visual, melalui proses panjang dan kreatif. Selain kurator atau kritikus seni, masyarakat pun memiliki peran dalam menilai kualitas karya para seniman. Kecerdasan serta keterampilan seniman akan terlihat dari hasil karyanya.

Sanggar Bambu Menginspirasi

Salah satu perkumpulan seni tertua yang masih aktif hingga sekarang adalah Sanggar Bambu, yang berdiri pada 1959 di Yogyakarta. Sanggar ini dipelopori oleh Soenarto Pr, seorang pelukis yang menjadi ketua, serta Kirdjomuljo, seorang sastrawan. Sanggar Bambu bukan hanya mewadahi pelukis, tetapi juga seniman teater, sastra, dan bidang seni lainnya.

Kreativitas menjadi landasan kebebasan bagi seniman untuk berkarya sesuai suara jiwa dan gagasan yang dimilikinya. Tidak heran jika Sanggar Bambu melahirkan banyak seniman berkarakter kuat yang dikenal luas, antara lain Soenarto Pr, Kirdjomuljo (sastra), Danarto, Soeharto Pr, Sunarto Pr, Soepomo Pr, Mulyadi W, Dadang Christanto, Gatot Sudrajat (ketua seniman poster/baliho, Kelompok Merdeka), Totok Buchori, Untung Basuki (musik), dan Liek Suyanto (teater). Pencapaian mereka bukan proses instan, melainkan buah dari perjalanan panjang yang konsisten dan sarat kreativitas.

Sebagai Kawah Candradimuka

PERUJA dapat menjadi wadah pendadaran dan penggodokan bersama. Sebuah ruang untuk menempa para perupa agar memiliki kepekaan, wawasan luas, responsivitas, serta kepedulian terhadap lingkungan sosialnya. Harapannya, lahir perupa-perupa dengan karya berkualitas dan berkarakter kuat.

Rawan Pecah

Namun, organisasi apa pun akan rentan pecah jika tidak dikelola secara transparan dan terbuka. Konflik biasanya muncul karena adanya kepentingan pribadi yang diselipkan, atau penyalahgunaan dana organisasi. Ketika keuangan tidak dikelola secara jujur dan akuntabel, maka tumbuh rasa curiga dan ketidakpercayaan antaranggotanya. Banyak organisasi bubar akibat persoalan sensitif tersebut.

Sebagai contoh, jika ada suatu event dengan sponsor, berarti terdapat dana untuk kegiatan tersebut. Namun apabila terdapat oknum yang menyalahgunakan dana demi kepentingan pribadi, hal itu merupakan tindakan merusak organisasi secara perlahan maupun cepat. Ironis bila seniman yang seharusnya menyuarakan antikorupsi justru melakukan korupsi. Semoga hal seperti itu tidak terjadi di PERUJA demi keberlangsungan dan kemajuan organisasi.

Semoga para perupa Jakarta melalui PERUJA tetap berkomitmen dan konsisten dalam menyuarakan gagasan cerdas yang dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat maupun pemerintah. Selamat ulang tahun PERUJA, selamat berkarya dan terus berkreasi.

[Gatot Eko Cahyono - Pengamat Seni Rupa, tinggal di Yogyakarta]

Topik:

PERUJA