BI Harus Tahan Kurs Rupiah Agar Tak Tergelincir
Jakarta, MI - Kurs rupiah masih terus menghadapi tekanan berat. Bank Indonesia (BI) harus kerja keras menahan kurs rupiah agar tidak tergelincir tembus Rp16.000 per dolar AS.
"Intervensi Bank Indonesia sejauh ini tidak efektif membuat kurs rupiah menguat secara signifikan, karena cadangan devisa milik pemerintah sangat terbatas. Pemerintah dalam dilema, naikkan harga atau subsidi?," ujar ekonom Prof Anthony Budiawan, Jum'at (27/10).
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani, menurut Anthony, saat ini di persimpangan jalan. Antara membiarkan harga BBM dan pangan naik, yang akan memicu inflasi dan daya beli masyarakat anjlok, atau menaikkan subsidi yang akan membuat belanja negara non-subsidi tertekan dan memicu kontraksi.
"Artinya, fiskal dan moneter dalam tekanan serius. Defisit transaksi berjalan meningkat, investor asing menarik diri, capital outflow membuat cadangan devisa turun, kurs rupiah anjlok".
"Suku bunga naik, ekonomi tertekan, harga pangan naik, daya beli masyarakat turun, subsidi meningkat, APBN tertekan, belanja pemerintah kontraksi, dan seterusnya," jelasnya.
Indonesia masuk vicious circle penurunan ekonomi, penurunan satu faktor ekonomi disusul dengan penurunan faktor-faktor ekonomi lainnya. "Nampaknya, vicious circle masih berputar, bertambah keras. Sulit terhindarkan, beberapa pihak akan terjungkal," tukas Anthoni.
Topik:
Bank Indonesia Kurs Rupiah Rupiah DolarBerita Sebelumnya
Emas Naik Dampak Israel-Hamas Memanas
Berita Selanjutnya
Bursa Efek : Kenaikan Suku Bunga BI Gerus Minat Investor
Berita Terkait
Uang Rupiah Terlambat, BI Longgarkan Aturan — BPK: Sanksi jadi Mandul
2 Februari 2026 19:28 WIB
Force Majeure Disetujui, Bank Garansi Pemasok Uang Rp50 Ribu dan Rp5 Ribu Tak Dicairkan
1 Februari 2026 17:09 WIB
Skandal Sunyi di Balik Rupiah: BPK Ungkap Carut-Marut Pengadaan Kertas Uang BI
30 Januari 2026 02:29 WIB
Cetak Uang Tanpa Hitung Tren Digital? BPK Soroti Perencanaan BI yang Dinilai Tak Akurat
29 Januari 2026 16:26 WIB