Harga Minyak Sawit Tertekan di Tengah Penguatan Ringgit
Jakarta, MI – Harga minyak sawit mentah (CPO) terkoreksi pada Jumat (20/2/2026), setelah sempat mencatat reli kuat pada hari sebelumnya. Pelemahan ini terjadi seiring turunnya harga minyak kedelai di Chicago dan penguatan ringgit Malaysia, yang secara tidak langsung menurunkan daya saing ekspor CPO.
Menurut data perdagangan, hingga pukul 14.26 WIB, kontrak berjangka (futures) CPO di Bursa Malaysia Derivatives melemah 0,51 persen ke 4.096 ringgit per ton. Aktivitas perdagangan pun cenderung lebih sepi, salah satunya karena bursa Dalian China tutup dalam rangka libur Tahun Baru Imlek.
Di sisi lain, menurut data Trading Economics, kekhawatiran terhadap ekspor meningkat setelah AmSpec Agri Malaysia melaporkan bahwa pengiriman minyak sawit Malaysia periode 1-20 Februari turun 12,6 persen dibandingkan Januari, mencerminkan permintaan yang lebih rendah selama Ramadan dan perayaan Idul Fitri.
Meski begitu, harga CPO masih mencatat kenaikan mingguan sebesar 1,4 persen, menghentikan tren pelemahan dua pekan sebelumnya. Dukungan datang dari pembeli utama, India, di mana impor minyak sawit pada Januari melonjak 51 persen secara bulanan, mencapai level tertinggi dalam empat bulan terakhir.
Sementara itu, persediaan minyak sawit Malaysia turun 7,7 persen dan produksi merosot 13,8 persen, sehingga memperketat pasokan.
Di Indonesia, sebagai produsen CPO terbesar di dunia, kesepakatan perdagangan terbaru dengan AS memastikan tarif tetap rendah di angka 19 persen, jauh lebih rendah dibandingkan usulan awal 32 persen. Kesepakatan ini juga membuka akses bebas tarif untuk beberapa komoditas, termasuk minyak sawit.
Topik:
minyak-sawit-mentah harga-cpo