Pendapatan Tertekan, Laba UOB Anjlok ke Rp18,6 Triliun
Jakarta, MI - Kinerja United Overseas Bank (UOB) pada kuartal IV 2025 sedikit meleset dari ekspektasi pasar. Bank asal Singapura itu membukukan laba bersih sebesar S$1,41 miliar atau sekitar US$1,11 miliar (setara Rp18,65 triliun), turun 7,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut berada di bawah perkiraan analis, yakni S$1,45 miliar. Penurunan laba terjadi seiring melemahnya pendapatan dari bisnis pinjaman, perdagangan, serta investasi.
Dalam laporan keuangan yang dirilis Selasa (24/2/2026), manajemen UOB mengakui tekanan pada beberapa lini bisnis utama turut memengaruhi kinerja akhir tahun.
Chief Executive Officer (CEO) UOB, Wee Ee Cheong, memperkirakan pertumbuhan bisnis perseroan tahun ini akan berada di kisaran “satu digit besar”.
Sebelumnya, Cheong sempat memproyeksikan pertumbuhan pada rentang satu digit tinggi hingga dua digit. Namun untuk saat ini, ia memilih mempertahankan proyeksi untuk sisa tahun ini.
Secara umum, perbankan Singapura tengah menghadapi penurunan pendapatan pinjaman akibat penurunan suku bunga acuan yang menekan margin. Namun, lembaga keuangan tersebut menikmati lonjakan pendapatan dari unit wealth.
Bank terbesar di negara itu, DBS Group, sebelumnya melaporkan penurunan laba kuartalan sebesar 10% pada awal bulan ini. Sementara itu, Oversea-Chinese Banking Corp. (OCBC) akan mengumumkan hasil keuangannya pada 25 Februari.
UOB sendiri sempat mengejutkan pasar pada awal November lalu setelah membukukan pencadangan terbesar sepanjang sejarah, yakni S$615 juta, untuk pinjaman properti komersial yang berisiko macet di masa depan, menyebabkan sahamnya anjlok.
Topik:
united-overseas-bank uob laba-uob