BBCA Tertinggal, Saham Bank Himbara Melaju Lebih Kencang

Rolia Pakpahan
Rolia Pakpahan
Diperbarui 24 Februari 2026 3 jam yang lalu
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) (Foto: Dok MI)
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) (Foto: Dok MI)

Jakarta, MI - Pergerakan saham perbankan belakangan ini menjadi sorotan. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah kinerja saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang sempat lesu dibandingkan saham-saham bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Sejak 21 Januari 2026, harga saham bank swasta terbesar di Indonesia itu terus berada dalam tekanan. Koreksi makin dalam setelah pengumuman mendadak dari pengelola indeks MSCI.

Namun tekanan itu tak berlangsung lama. Manajemen BBCA merespons cepat dengan mengumumkan aksi pembelian saham kembali atau buyback sehingga sahamnya kembali menguat.

Jika ditelaah dalam sebulan terakhir, saham-saham perbankan terlihat cukup tangguh menghadapi beragam sentimen negatif yang membebani indeks. Tekanan tersebut datang dari keputusan MSCI menangguhkan rebalancing saham Indonesia hingga langkah Moody’s Ratings yang menurunkan outlook peringkat lima bank besar nasional.

Adapun empat saham bank Himbara yang kerap dijadikan pembanding di sektor ini meliputi PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).

Mengacu pada data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (23/2/2026), saham BBCA menguat 1,04% ke posisi Rp7.300. BBRI naik 1,56% menjadi Rp 3.900, BMRI naik 2,93% ke Rp 5.275, BBNI naik 0,67% ke Rp 4.500, dan BBTN juga menguat 1,10% ke Rp 1.380.

Jika dilihat dalam rentang satu bulan terakhir, performa saham perbankan menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok. BBTN mencatatkan penguatan tertinggi sebesar 12,20%, disusul BMRI yang naik 5,92%, dan BBRI 2,36%. 

Sebaliknya, BBCA menjadi saham dengan pelemahan terdalam, turun 4,58%, disusul BBNI yang terkoreksi 1,96%.

Kemudian secara tahunan, saham BTN juga memimpin dengan kenaikan 47,59%. Sementara BCA justru melemah 18,89%. Data tersebut mengindikasikan bahwa kinerja saham bank swasta terbesar nasional itu tertinggal dibandingkan bank-bank Himbara dalam periode jangka pendek.

Dari sisi pergerakan dana asing, ketertarikan investor global terhadap saham BCA terlihat mulai berkurang. Sepanjang 1–20 Februari 2026, investor asing tercatat memborong saham BMRI senilai Rp 1,88 triliun atau sekitar 3,6 juta saham. 

Selain itu, saham BBTN turut diborong senilai Rp246,6 miliar, sementara BBRI mencatatkan pembelian asing sebesar Rp44,8 miliar.

Sebaliknya, aksi lepas saham justru menekan BBCA dengan nilai jual bersih yang cukup besar, mencapai Rp4,05 triliun. Tekanan serupa juga terjadi pada BBNI, yang mencatat net sell asing sebesar Rp309,1 miliar.

Topik:

bca saham-bca bank-himbara