Ramai Dikritik, BGN Evaluasi Total MBG Ramadan

Rolia Pakpahan
Rolia Pakpahan
Diperbarui 25 Februari 2026 15:08 WIB
Kepala BGN, Dadan Hindayana (Foto: Dok MI)
Kepala BGN, Dadan Hindayana (Foto: Dok MI)

Jakarta, MI - Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Ramadan kini menjadi sorotan publik. Menanggapi dinamika di lapangan, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana memerintahkan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program tersebut.

Evaluasi tak hanya menyasar kualitas makanan, tetapi juga mencakup aspek kemasan, komposisi menu, hingga transparansi perhitungan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Langkah ini diambil untuk memastikan MBG Ramadan tetap memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan sekaligus menjawab berbagai kritik yang muncul di ruang publik.

Dadan menyampaikan hal ini dalam rapat koordinasi bersama seluruh mitra dan Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang digelar pada Selasa (24/2/2026), secara daring.

"Kami ingin memastikan bahwa pelaksanaan MBG Ramadan tetap sesuai standar gizi, tepat sasaran, serta transparan dari sisi penggunaan anggaran. Evaluasi ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman di ruang publik," kata Dadan dalam keterangan tertulis, Rabu (25/2/2026).

Dalam kesempatan itu, Dadan meminta seluruh mitra memperhatikan kemasan makanan. Kemasan tidak lagi hanya menggunakan kantong plastik sederhana, tetapi harus ditempatkan dalam wadah yang lebih representatif, higienis, dan mampu menjaga kualitas makanan hingga diterima oleh para penerima manfaat.

Selain itu, Dadan juga menekankan pentingnya penyesuaian komposisi bahan pangan agar tetap berada dalam pagu anggaran yang telah ditetapkan. Ia meminta agar menu MBG berupa kacang diganti menjadi telur tanpa mengurangi nilai gizi. Sebab, harga kacang memiliki harga relatif lebih mahal dibanding telur. Sementara, telur dinilai memiliki citra protein yang lebih baik dan lebih mudah diterima masyarakat.

Lebih lanjut, Dadan memastikan setiap SPPG wajib menyusun penjelasan terperinci mengenai perhitungan Angka Kecukupan Gizi (AKG) serta harga masing-masing bahan pangan dalam setiap menu. Pagu harga bahan baku untuk balita hingga siswa SD kelas 3 sebesar Rp 8.000/porsi.

Untuk kelompok lainnya, besaran anggarannya Rp 10.000/porsi. Patokan dasar ini dapat berbeda sesuai indeks kemahalan daerah dan bersifat at cost, sehingga perlu dijelaskan secara terbuka kepada publik.

Kemudian, Dadan menginstruksikan setiap SPPG mulai menyediakan peralatan vakum (vacuum sealer) agar makanan lebih awet, higienis, dan tetap layak konsumsi saat didistribusikan untuk upaya menjaga kualitas makanan. Langkah ini menjadi bagian dari penguatan standar keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG selama Ramadan.

Ia turut mengingatkan para mitra agar tidak memaksakan penggunaan bahan baku yang kualitasnya sudah menurun. Jika ditemukan bahan yang tidak layak, distribusi sebaiknya ditunda dan diganti pada hari berikutnya. Langkah ini diambil demi menjamin keamanan serta kesehatan para penerima manfaat tetap menjadi prioritas.

"Kami tidak ingin ada kompromi dalam hal kualitas. Prinsipnya sederhana: makanan harus aman, bergizi, dan sesuai pagu. Jika ada bahan yang tidak layak, lebih baik diganti daripada dipaksakan. Ini bentuk tanggung jawab kami kepada masyarakat," tutur Dadan.

Topik:

program-makan-bergizi-gratis mbg-ramadan bgn