Warthog Rilis “RockandRoll 50”, Amunisi Baru Crossover Thrash–Punk dari Jakarta

Adelio Pratama
Adelio Pratama
Diperbarui 25 Februari 2026 11:38 WIB
Band crossover thrash–punk asal Jakarta, Warthog, resmi merilis album “RockandRoll 50” yang berisi 18 lagu cepat, agresif, dan penuh kritik sosial. Mengusung semangat perlawanan, solidaritas skena, serta realitas hidup kelas pekerja, rilisan ini menjadi pernyataan tegas Warthog di jalur musik keras independen dengan karakter sound raw dan autentik.
Band crossover thrash–punk asal Jakarta, Warthog, resmi merilis album “RockandRoll 50” yang berisi 18 lagu cepat, agresif, dan penuh kritik sosial. Mengusung semangat perlawanan, solidaritas skena, serta realitas hidup kelas pekerja, rilisan ini menjadi pernyataan tegas Warthog di jalur musik keras independen dengan karakter sound raw dan autentik.

Jakarta, MI – Warthog, unit crossover thrash–punk asal Jakarta, kembali mengguncang skena musik keras lewat perilisan album terbaru bertajuk “RockandRoll 50”. Album ini menjadi penanda konsistensi mereka dalam menghadirkan musik cepat, agresif, dan tanpa kompromi.

Mengusung energi mentah dengan tempo menghajar, Warthog menyajikan 18 track berdurasi singkat yang padat dan langsung ke sasaran. Tidak ada basa-basi. Setiap lagu bergerak cepat dengan riff tajam, dentuman drum bertenaga single pedal, serta vokal penuh amarah yang lugas.

Warthog terbentuk pada Agustus 2022 di Jakarta. Band ini lahir dari keresahan terhadap realitas sosial, budaya konsumtif, tekanan hidup kelas pekerja, hingga dinamika keras kehidupan jalanan. Musik mereka bukan sekadar hiburan, tetapi bentuk ekspresi, kritik, dan perlawanan.

Secara musikal, Warthog terinspirasi oleh deretan nama besar crossover thrash dan hardcore seperti Suicidal Tendencies, D.R.I., Municipal Waste, Motörhead, Ratos de Porão, hingga Nailbomb. Meski demikian, mereka tetap menjaga identitas orisinal dengan sentuhan punk jalanan yang kasar dan berenergi tinggi. Perpaduan tersebut melahirkan karakter sound old school yang kental, cepat, dan terus berlari tanpa kompromi.

Melalui “RockandRoll 50”, Warthog mengangkat tema kritik sosial, perlawanan terhadap ketidakadilan, solidaritas skena, hingga realitas hidup kelas pekerja. Proses rekaman dilakukan secara independen demi menjaga karakter suara tetap raw dan autentik. Mixing dan mastering dikerjakan oleh Miko di Warthog House, memastikan produksi tetap solid tanpa kehilangan kesan liar yang menjadi ciri khas mereka.

Di atas panggung, Warthog dikenal dengan performa eksplosif. Moshpit intens, interaksi tanpa sekat, dan atmosfer chaos yang terkontrol selalu menjadi bagian dari setiap penampilan. Dalam waktu singkat, mereka telah tampil di berbagai gigs underground dan festival komunitas, berbagi panggung dengan sejumlah band lintas genre keras.

Formasi Warthog diisi oleh musisi dari berbagai latar belakang musik yang berbeda, yaitu Dino Jacob (Gitar) – Reverse (Hawaii), Agung Gele (Bass) – Golok Setan, Miko (Drum) – Deadpits, dan Antonbotol (Vokal) – Brain The Machine. Perpaduan pengalaman tersebut semakin menguatkan karakter musikal Warthog yang mengusung semangat old school dengan pendekatan modern yang tetap relevan.

“RockandRoll 50” kini telah tersedia dalam format digital melalui berbagai platform streaming seperti Spotify, iTunes Music, dan YouTube Music.

Nama Warthog merepresentasikan karakter liar, kuat, dan sulit dijinakkan—selaras dengan musik yang mereka usung. Dengan semangat independen dan solidaritas komunitas, mereka berkomitmen untuk terus bergerak, merilis karya, dan menyuarakan keresahan melalui distorsi dan tempo cepat.

We Are Warthog, We’re Playing Rock and Roll.

Topik:

Warthog RockandRoll 50 crossover thrash thrash punk band Jakarta musik underground skena hardcore rilisan album band independen musik keras Indonesia