Rupiah Berbalik Menguat, BI Nilai Respons Kebijakan Redam Gejolak Pasar

Dian Ihsan
Dian Ihsan
Diperbarui 10 Februari 2026 1 jam yang lalu
Ilustrasi uang rupiah. (Foto: Dok Istimewa)
Ilustrasi uang rupiah. (Foto: Dok Istimewa)

Jakarta, MI - Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan penguatan dalam beberapa hari terakhir, setelah sebelumnya tertekan oleh volatilitas pasar pascarilis laporan Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Mengacu pada data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Selasa (10/2/2026), rupiah berada di level Rp16.810 per dolar AS, atau naik 5 poin dari posisi Rp16.805 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menilai pergerakan positif rupiah menandakan pulihnya sentimen pasar terhadap kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Dia menyebutkan, tren penguatan sudah terlihat konsisten dalam tiga hari terakhir.

"Dalam beberapa hari ini rupiah mulai bergerak menguat. Hari ini posisinya juga sudah kembali ke kisaran 16.700-an," kata Destry di Jakarta.

Menurut Destry, tekanan terhadap rupiah sebelumnya dipicu oleh reaksi pasar global terhadap laporan MSCI, ditambah perkembangan ekonomi di sejumlah negara tetangga yang turut memengaruhi persepsi risiko investor.

Meski demikian, kekhawatiran tersebut berangsur mereda seiring komunikasi kebijakan yang dinilai jelas dan meyakinkan dari pemerintah serta otoritas terkait.

"Pesan kebijakan yang disampaikan secara tegas membantu pasar memahami bahwa langkah-langkah yang diambil bertujuan menjaga kepercayaan dan stabilitas," jelas dia.

BI, lanjut Destry, tetap berkomitmen menjaga pergerakan rupiah agar tetap stabil melalui penerapan kebijakan intervensi yang terukur dan adaptif. Bank sentral akan terus hadir di pasar dengan berbagai instrumen.

Intervensi dilakukan tidak hanya di pasar spot, tetapi juga melalui instrumen DNDF maupun NDF offshore. 

BI juga mengambil langkah antisipatif dengan masuk ke pasar saat terjadi arus keluar dana asing dari Surat Berharga Negara (SBN) dalam beberapa hari terakhir.

"Tujuannya agar pergerakan rupiah tetap seimbang, tidak terlalu menguat dan tidak pula tertekan berlebihan, mengingat kompetisi likuiditas global saat ini sangat ketat," tutup Destry.

Topik:

destry-damayanti bi nilai-tukar-rupiah nilai-rupiah-terhadap-dolar-as