IHSG Tertekan Awal 2026: Efek MSCI, Moody’s, hingga Mundurnya Pejabat Pasar Modal

Dian Ihsan
Dian Ihsan
Diperbarui 10 Februari 2026 3 jam yang lalu
Ilustrasi papan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Foto: Dok MI)
Ilustrasi papan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Foto: Dok MI)

Jakarta, MI – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencatatkan euforia dengan mendekati level 9.000 pada awal hingga pertengahan Januari 2026. Namun reli tersebut tidak bertahan lama. IHSG kemudian terperosok ke kisaran 7.000-an setelah pasar diguncang sentimen negatif dari MSCI (Morgan Stanley Capital International) dan lembaga pemeringkat Moody’s.

Berdasarkan rangkuman Monitorindonesia.com per Selasa (10/2/2026), tekanan utama berasal dari keputusan MSCI yang memberlakukan pembekuan sementara (freeze) terhadap seluruh perubahan indeks pasar Indonesia.

Keputusan MSCI didasarkan pada dua temuan utama yang menjadi perhatian investor global. Pertama, MSCI menilai transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia masih belum memenuhi standar keterbukaan internasional.

Kedua, terdapat kekhawatiran serius terkait indikasi perilaku perdagangan terkoordinasi (coordinated trading behavior) pada sejumlah saham tertentu, yang dinilai dapat mendistorsi mekanisme pasar dan membuat harga saham tidak mencerminkan valuasi wajar.

Akibat keputusan tersebut, MSCI menutup peluang penambahan emiten baru serta membekukan kenaikan bobot saham Indonesia di dalam indeks. Bagi investor institusi global, khususnya pengelola dana pasif, kebijakan ini menjadi sinyal peringatan keras yang memicu penyesuaian portofolio secara otomatis.

IHSG 2 Kali Trading Halt

Dampak pengumuman MSCI langsung terasa di pasar. Pada Rabu, 28 Januari 2026 pukul 13.43 WIB, IHSG anjlok lebih dari 8%, sehingga Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan trading halt selama 30 menit.

Namun penghentian sementara tersebut tidak mampu meredam tekanan. IHSG tetap melemah hingga penutupan perdagangan, dengan hampir seluruh saham lintas sektor mengalami penurunan tajam.

Keesokan harinya, Kamis (29/1/2026), IHSG kembali mengalami trading halt pada pukul 09.24 WIB, masih dipicu sentimen negatif dari MSCI.

Respons Pemerintah dan OJK

Merespons kondisi pasar yang kian genting, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menggelar rapat bersama sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua OJK, serta pimpinan lembaga dan BUMN strategis.

Pada sore hari yang sama, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) menggelar konferensi pers darurat. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengumumkan sejumlah langkah konkret untuk menjawab tuntutan MSCI dan memulihkan kepercayaan pasar, antara lain:

  • Peningkatan free float emiten menjadi minimal 15%, lebih tinggi dari ketentuan sebelumnya.
  • Peningkatan transparansi kepemilikan saham, baik di atas maupun di bawah 5%, berdasarkan kategori investor.
  • Pengungkapan Pemilik Manfaat Akhir (Ultimate Beneficial Owner) kepada MSCI sesuai standar global.

Tekanan Tambahan dan Pengunduran Diri Pejabat

Di tengah kondisi pasar yang rapuh, tekanan semakin bertambah setelah Goldman Sachs memangkas peringkat pasar saham Indonesia dari Overweight menjadi Underweight.

Sehari setelah trading halt kedua, Direktur Utama BEI Iman Rachman mengundurkan diri pada Jumat (30/1/2026) sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kondisi pasar.

Tak lama berselang, pengunduran diri juga dilakukan oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar,  Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (KE PMDK) Inarno Djajadi dan Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (DKTK), I.B. Aditya Jayaantara, serta Wakil Ketua DK OJK Mirza Adityaswara pada hari yang sama.

Pengunduran diri massal ini dipandang pelaku pasar sebagai tanggung jawab moral atas gejolak IHSG serta upaya menjaga kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global.

Mereka yang mengundurkan diri telah diganti dengan pejabat sementara (Pjs) oleh pemerintah pusat, agar fungsi regulasi, aktivitas perdagangan, dan pengawasan pasar modal Indonesia berjalan normal. Pejabat sementara ini juga yang akan memperbaiki kondisi pasar modal Indonesia dari berbagai koreksi MSCI dan pihak lainnya.

Efek Moody’s dan Prospek IHSG

Tekanan belum berhenti. Pada Kamis (5/2/2026), Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif. Dampaknya, IHSG kembali tertekan dan ditutup turun 2,08% ke level 7.935,25 pada Jumat (6/2/2026), setelah sempat melemah hingga 2,83% intraday.

Seiring meredanya sentimen MSCI dan Moody’s, IHSG mulai menunjukkan pemulihan dan kembali bergerak ke kisaran 8.100-an pada perdagangan Selasa (10/2/2026).

Meski demikian, pasar masih dibayangi ketidakpastian, termasuk keputusan FTSE Russell yang menunda review indeks Indonesia pada Maret 2026, membuat investor institusi global tetap bersikap wait and see terhadap pasar modal domestik.

Topik:

ihsg msci moodys bei ojk