Sekolah Garuda Fokuskan Pendidikan pada Siswa Berbakat

Rizal Siregar
Rizal Siregar
Diperbarui 18 Februari 2026 11:50 WIB
Kemendiktisaintek saat beberkan program Sekolah Garuda. (Foto. Rizal Siregar)
Kemendiktisaintek saat beberkan program Sekolah Garuda. (Foto. Rizal Siregar)

Jakarta, MI -Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani menegaskan, bahwa program Sekolah Garuda dirancang untuk membuka ruang pengembangan bagi siswa berbakat yang selama ini kurang terfasilitasi, sekaligus memperluas akses pendidikan unggul di luar Pulau Jawa. 

Hal itu disampaikan dalam kegiatan diseminasi program pendidikan yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Graha Diktisaintek, Jakarta, Rabu (18/2/2026).

Dalam paparannya, ia menekankan bahwa Sekolah Garuda berangkat dari filosofi pengembangan talenta unggul atau the 1% rule.

“Sekolah Garuda didujukan bagi anak-anak berbakat yang jumlahnya kecil tetapi memiliki potensi sangat tinggi. Mereka sering terlewat dalam kebijakan pendidikan, padahal negara perlu memberi ruang agar potensi mereka berkembang maksimal,” ujar Ahmad Najib Burhani.

Ia menjelaskan, banyak siswa berbakat di berbagai daerah belum memperoleh lingkungan belajar yang sesuai dengan kemampuan mereka. Akibatnya, potensi tersebut tidak berkembang optimal.

“Anak-anak pintar dan istimewa ini sering kali berbeda dari teman sekelasnya, tetapi tidak mendapat fasilitasi yang memadai. Inilah yang ingin dijawab melalui Sekolah Garuda,” katanya.

Selain fokus pada pengembangan talenta unggul, pembangunan Sekolah Garuda juga bertujuan memperluas pemerataan pendidikan berkualitas di daerah.

“Sekolah Garuda tidak dibangun di Jawa, tetapi di wilayah yang memiliki potensi besar namun minim fasilitas pendidikan unggul,” jelasnya.

Empat lokasi tahap awal pembangunan meliputi: Belitung Timur, Soe, Konawe Selatan dan Tanjung Selor

Sekolah-sekolah tersebut ditargetkan mulai digunakan pada tahun ajaran 2026/2027.

Menurutnya, pemerataan akses pendidikan unggul sangat penting karena banyak daerah memiliki potensi siswa berprestasi, tetapi tidak memiliki fasilitas pendidikan memadai.

“Di banyak wilayah, bahkan keluarga mampu pun kesulitan mencari sekolah unggul di daerahnya. Sekolah Garuda hadir sebagai bagian dari pemerataan pembangunan pendidikan nasional,” ujarnya.

Sekolah Garuda dirancang dengan empat komponen kurikulum utama, yaitu kurikulum nasional, penguatan karakter, kurikulum STEM (sains, teknologi, rekayasa, matematika), serta kurikulum internasional.

“Penguatan STEM menjadi fokus utama karena kebutuhan tenaga ahli di bidang ini sangat tinggi, sementara minat siswa masih relatif rendah,” kata Ahmad Najib Burhani.

Ia menambahkan, penguatan STEM di tingkat SMA diharapkan menciptakan ekosistem yang mendorong lahirnya talenta sains dan teknologi untuk mendukung pembangunan nasional.

Program Sekolah Garuda juga terhubung dengan skema beasiswa pendidikan tinggi luar negeri. Pemerintah menyiapkan dukungan beasiswa S1 bagi lulusan terbaik untuk melanjutkan studi ke kampus unggulan dunia.

“Beasiswa Garuda menjadi bagian dari ekosistem. Siswa tidak hanya mendapat pendidikan unggul di SMA, tetapi juga peluang melanjutkan ke perguruan tinggi terbaik dunia,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pemerintah saat ini membuka proses penerimaan peserta didik baru dan seleksi tenaga pendidik untuk sekolah tersebut.

“Kami berharap informasi ini menjangkau seluruh daerah agar tidak ada siswa berbakat yang kehilangan kesempatan hanya karena tidak mengetahui adanya program ini,” kata Ahmad Najib Burhani.

Setiap Sekolah Garuda akan menampung sekitar 160 siswa dengan dukungan beasiswa penuh serta fasilitas pendidikan modern.

“Kami ingin memastikan anak-anak terbaik bangsa, di mana pun mereka berada, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang,” pungkasnya.

 

 

Topik:

Sekolah Garuda pendidikan unggul Kemendiktisaintek siswa berbakat pemerataan pendidikan STEM beasiswa Garuda