Bersama BRIN, Hetifah Tegaskan Prioritas Kesehatan Mental dalam Pendidikan Nasional
Jakarta, MI - Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menginisiasi kegiatan bertema “Peduli Kesehatan Mental dan Pendidikan Anak Keluarga Rentan Melalui Penguatan dan Deteksi Dini”.
Dalam sambutannya, Hetifah menegaskan bahwa kesehatan mental anak harus ditempatkan sebagai prioritas dalam pendidikan.
Oleh karena itu, Komisi X DPR RI bersama BRIN RI berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi riset dan kebijakan guna memastikan setiap anak Indonesia, khususnya dari keluarga rentan, mendapatkan hak atas pendidikan yang sehat secara mental, emosional, dan intelektual.
"Kesehatan mental adalah prasyarat lahirnya generasi yang tangguh. Kita tidak bisa berbicara tentang kualitas pendidikan tanpa memastikan anak-anak kita merasa aman, didengar, dan dihargai," kata Hetifah, Jakarta, Sabtu (21/2).
Ia menambahkan, Survei Indonesia National Mental Health 2024 mencatat 39,4 persen remaja mengalami masalah mental, dan angka ini terus meningkat 20 persen hingga 30 persen setiap tahun.
“Data ini menjadi alarm bagi kita semua. Di balik angka-angka tersebut ada anak-anak yang sedang berjuang dalam diam. Negara tidak boleh abai, dan kebijakan pendidikan harus responsif terhadap kondisi psikologis peserta didik,” tegas Hetifah.
Ia juga menekankan bahwa dalam pembahasan RUU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), Komisi X DPR RI mendorong penguatan konsep untuk mempertegas peran sekolah sebagai ruang aman dan inklusif, termasuk penguatan layanan konseling, pelatihan guru dalam mengenali tanda-tanda stres, depresi, dan kecemasan, serta penyediaan ruang konseling yang nyaman dan mudah diakses siswa.
Hetifah juga menegaskan, deteksi dini tidak hanya berlaku bagi anak, tetapi juga bagi orang tua, terutama ibu yang rentan mengalami kelelahan mental. “Orang tua yang sehat akan melahirkan anak yang kuat. Jangan hanya fokus pada deteksi dini gangguan pada anak, tetapi juga pada kelelahan mental orang tua. Pendidikan yang membahagiakan hanya bisa terwujud jika keluarga dan sekolah menjadi ruang yang aman dan suportif,” pungkasnya.
Sementara itu, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN RI, Irmansyah menyampaikan, depresi sering kali dimulai pada masa muda, saat perkembangan saraf utama sedang berlangsung. “Penting komunikasi empatik agar anak mau terbuka, seperti mengobrol santai tanpa tekanan, menggunakan pertanyaan terbuka untuk memahami perasaan anak” ujar Irmansyah.
Sementara itu, Education Specialist/Counsellor, Rusiati Yo menekankan pentingnya pendekatan berbasis strategi yang berfokus pada kerja otak seperti Mind-Up Curriculum, yang membantu anak memahami emosi, membangun kesadaran diri, serta menumbuhkan rasa syukur.
"Penelitian menunjukkan bahwa rasa syukur memiliki dampak fisiologis yang signifikan terhadap tubuh, seperti memperlambat detak jantung, menenangkan sistem saraf, dan membantu menjaga ritme jantung yang lebih stabil," paparnya.
Topik:
Hetifah Sjaifudian Ketua Komisi X DPR BRINBerita Sebelumnya
Sekolah Garuda Fokuskan Pendidikan pada Siswa Berbakat
Berita Terkait
Ketua Komisi X DPR: Guru Yang Telanjangi Siswa SD Harus Diberhentikan
12 Februari 2026 16:48 WIB
DPR Puji Konsolnas Kemendikdasmen: Partisipasi Semesta Kunci Pendidikan Bermutu
12 Februari 2026 00:14 WIB
Hetifah Apresiasi Perjuangan Heroik Timnas Futsal Indonesia di Piala Asia 2026
8 Februari 2026 14:28 WIB