Siswi SMA di NTT Dibanting Guru hingga Pingsan, DPR Ikut Angkat Suara

Rolia Pakpahan
Rolia Pakpahan
Diperbarui 26 Februari 2026 1 hari yang lalu
Siswi SMA di Kabupaten Belu, NTT Dirawat di Rumah Sakit usai Dibanting Guru (Foto: Istimewa)
Siswi SMA di Kabupaten Belu, NTT Dirawat di Rumah Sakit usai Dibanting Guru (Foto: Istimewa)

Kabupaten Belu, MI - Di sebuah SMA negeri di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), seorang siswi berusia 16 tahun, SMN, dibanting oleh gurunya, Vince Aplugi, hingga pingsan. Insiden ini langsung memicu kecaman luas dari masyarakat dan sorotan tajam dari berbagai pihak, termasuk DPR.

Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian, menyatakan keprihatinannya atas kejadian tersebut. Menurutnya, insiden ini menunjukkan bahwa upaya penguatan karakter guru, peningkatan kompetensi pedagogik, dan pengawasan terhadap tenaga pendidik masih belum berjalan optimal.

"Kasus kekerasan dalam proses belajar mengajar di sekolah, di mana pun terjadi, termasuk di NTT, tentu sangat memprihatinkan," kata Lalu kepada wartawan, Kamis (26/2/2026). 

"Peristiwa semacam ini menunjukkan bahwa penguatan karakter, kompetensi pedagogik, serta pengawasan terhadap pendidik masih belum optimal."

Lalu menegaskan, implementasi Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) harus dijalankan secara konsisten di seluruh sekolah. Regulasi ini diharapkan menjadi panduan dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan bebas dari kekerasan.

Ia juga menekankan perlunya penegakan sanksi tegas bagi pelaku kekerasan, pendampingan psikologis bagi korban, serta evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan guru. Hal ini dinilai penting untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.

"Selain itu, kami mendorong penegakan sanksi yang tegas, pendampingan bagi korban, serta evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan guru agar peristiwa serupa tidak terus berulang," tegasnya.

Menurut Lalu, proses belajar mengajar seharusnya dilandasi dengan cara yang beradab dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa guru yang mampu membangun komunikasi yang sehat dengan peserta didik akan menciptakan rasa aman dan nyaman dalam proses belajar, serta menerapkan pendekatan disiplin positif, bukan kekerasan.

"Pada prinsipnya, mengajar dengan cara yang baik dan beradab adalah fondasi utama pendidikan. Guru yang mampu membangun komunikasi yang sehat dengan peserta didik akan menciptakan rasa aman dalam proses belajar, serta menerapkan pendekatan disiplin positif, bukan kekerasan," tuturnya.

"Sekolah harus menjadi ruang yang aman dan mendidik, bukan tempat terjadinya kekerasan," kata dia.

Kronologi Kejadian

Menurut laporan kepolisian, insiden ini terjadi pada Selasa (24/2/2026) sekitar pukul 12.00 Wita, saat korban mengikuti ujian mata pelajaran Biologi di kelas. Kasat Reskrim Polres Belu, AKP Rachmat Hidayat, menjelaskan bahwa korban dibanting karena tidak bisa menggambar neuron atau sel saraf.

"Terlapor menganiaya korban dengan menggunakan botol yang berisikan air mineral serta menarik rambut dan membanting korban di kursi hingga pingsan dan merasa sakit di bagian kepala dan merasa pusing," ungkap AKP Rachmat.

Ujian tersebut memang menuntut siswa untuk menggambar sel saraf, tetapi korban dan beberapa teman mengalami kesulitan. Sayangnya, kesulitan itu memicu tindakan kekerasan dari guru yang bersangkutan.

Kasus ini kini tengah ditangani oleh pihak kepolisian, dan proses hukum sedang berlangsung. Diharapkan, penegakan hukum yang adil dan transparan bisa memberikan keadilan bagi korban sekaligus menjadi pelajaran penting bagi semua pihak.

Topik:

siswi-sma kekerasan kabupaten-belu dpr