Produksi Emas Freeport 2025 Turun Hampir 50% Akibat Longsor Tambang

Rolia Pakpahan
Rolia Pakpahan
Diperbarui 23 Januari 2026 19:02 WIB
Freeport Catat Penurunan Produksi Emas 2025 Hampir 50% (Foto: Ist)
Freeport Catat Penurunan Produksi Emas 2025 Hampir 50% (Foto: Ist)

Jakarta, MI - Freeport-McMoRan (FCX) mencatat penurunan produksi emas dan tembaga dari tambang bawah tanah di Papua sepanjang 2025. Merosotnya produksi ini dipicu insiden longsoran material basah yang terjadi di area tambang Grasberg Block Cave (GBC), Tembagapura, Kabupaten Mimika, pada September 2025.

Insiden tersebut memaksa operasi tambang bawah tanah GBC dihentikan sementara, sehingga berdampak langsung pada kinerja produksi PT Freeport Indonesia.

Berdasarkan laporan FCX yang dikutip Jumat (23/1/2026), produksi emas PT Freeport Indonesia sepanjang 2025 tercatat hanya mencapai 900.000 ons, sementara produksi tembaga menjadi 1,0 miliar pon. Capaian ini jauh di bawah tingkat produksi normal yang seharusnya bisa mencapai 1,3 juta ons emas dan 1,7 miliar pon tembaga per tahun.

Produksi emas PT Freeport Indonesia (PTFI) pada 2025 tercatat turun hampir 50% dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencapai 1,86 juta ons pada 2024. Sementara itu, produksi tembaga pada 2025 ini turun 43,6% dari 1,80 miliar pon pada 2024.

Penurunan ini terutama disebabkan insiden longsor yang terjadi pada 8 September 2025, yang memaksa penghentian sementara operasi di GBC. Perusahaan menyebutkan bahwa dampak dari insiden tersebut signifikan terhadap kinerja operasional tahunan PTFI.

"Produksi sebesar 1,0 miliar pon tembaga dan 0,9 juta ons emas selama tahun 2025 terutama mencerminkan dampak penghentian sementara operasi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave sejak September 2025," tulis FCX dalam laporannya, dikutip Jumat (23/1/2026).

Perusahaan memperkirakan pemulihan operasi di Grasberg Block Cave akan dimulai secara bertahap pada kuartal kedua 2026. PTFI menargetkan sekitar 85% dari total kapasitas produksi normal dapat pulih pada paruh kedua tahun ini, dengan prioritas dimulainya kembali Blok Produksi 2 dan 3.

"Investigasi dan rencana perbaikan telah diselesaikan pada kuartal keempat 2025, dan rencana dioperasikannya kembali, serta peningkatan produksi secara bertahap tambang bawah tanah Grasberg Block Cave ini diperkirakan akan dimulai pada kuartal kedua 2026," jelas laporan perusahaan.

Pada akhir Oktober 2025, PTFI telah memulai kembali operasi di tambang bawah tanah DMLZ dan Big Gossan, yang tidak terdampak oleh longsoran material basah.

Selain itu, PTFI tengah mengupayakan pemulihan kerugian berdasarkan polis asuransi properti dan gangguan usaha, yang memberikan perlindungan hingga sebesar US$ 1,0 miliar atas kerugian (dengan batas maksimum US$ 0,7 miliar untuk insiden bawah tanah), setelah dikurangi deduksi sebesar US$ 0,5 miliar.

Dampak dari insiden longsoran juga dirasakan di sektor hilir, di mana operasi peleburan (smelter) PTFI di Jawa Timur sempat dihentikan sementara pada kuartal keempat 2025 akibat pasokan konsentrat tembaga yang terbatas. Adapun pengiriman pasokan ke smelter baru diperkirakan akan kembali normal pada paruh kedua 2026, bergantung pada keberhasilan pemulihan produksi di hulu.

Meski demikian, PTFI tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang melalui pengembangan tambang Kucing Liar. Terbaru, terdapat potensi cadangan di area tersebut meningkat menjadi 8 miliar pon tembaga dan 8 juta ons emas, dengan estimasi produksi awal dimulai sekitar tahun 2030.

Topik:

freeport-mcmoran fcx tambang pt-freeport-indonesia emas tembaga papua